Kongres Bahasa Sasak Oktober 2026, Majelis Adat Sasak Soroti Lunturnya Sapaan "Inak" dan "Amak" di Keluarga

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Rabu, 09 September 2026 | 09:16:01 WIB
Majelis Adat Sasak menyoroti lunturnya sapaan "inak" dan "amak" di kalangan keluarga pada Kongres Bahasa Sasak Oktober 2026.

MATARAM — Pergeseran penggunaan bahasa Sasak di kalangan generasi muda disebut semakin nyata, salah satunya dalam sapaan sehari-hari di lingkungan keluarga. Istilah "inak" dan "amak" yang merupakan panggilan khas orang tua dalam bahasa Sasak, mulai tergantikan dengan kata seperti "bunda", "umi", "ayah", hingga "abi".

Ketua Majelis Adat Sasak (MAS), Lalu Sajim Sastrawan, mengungkapkan fenomena ini menjadi perhatian serius. Sejumlah kosa kata dan ungkapan yang dulu lazim terdengar, kini mulai jarang dipakai. “Ungkapan atau kosa kata yang sudah lama sekali tidak terdengar perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya, Selasa (8/9/2026).

Ungkapan Klasik yang Masih Hidup di Pedalaman

Menariknya, sebagian ungkapan lama justru masih ditemukan di wilayah pedalaman Lombok. Beberapa sapaan seperti “Miq, silak simpang meriki” serta ungkapan “Pelinggih de beraik anget niki” dinilai masih terdengar di daerah tersebut, meski nyaris punah di perkotaan.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi MAS dan pegiat budaya. Miq Sajim, sapaan akrabnya, menilai tanpa upaya nyata, kekayaan linguistik itu akan semakin tergerus oleh perubahan zaman.

Kongres Bahasa Sasak: Apa yang Akan Dibahas?

Untuk merespons persoalan tersebut, MAS menyiapkan Kongres Bahasa Sasak pada Oktober mendatang. Acara ini dirancang sebagai ruang bersama bagi para pihak yang peduli pada kelestarian bahasa daerah.

Kongres akan melibatkan tokoh adat, tokoh agama, komunitas Sasak, serta civitas akademika dari empat wilayah utama, yakni Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Kota Mataram.

Pembahasan di kongres nanti diarahkan pada tiga hal pokok: arah perkembangan bahasa, strategi pelestarian, serta upaya konkret agar penggunaan bahasa Sasak tidak semakin kehilangan kosa kata asli di tengah arus modernisasi.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: mataramradio.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top