PRINGGABAYA — Dikpora NTB melalui Bidang Kepemudaan menggandeng Paguyuban Putri Kebaya Indonesia NTB 2026 untuk menyasar pelajar di Lombok Timur. Sosialisasi digelar di SMAN 1 Pringgabaya dengan hampir 500 siswa-siswi kelas XI sebagai peserta.
Kegiatan ini menyasar dua isu sekaligus: penggalian potensi diri dan pencegahan pernikahan usia anak. Dua tema itu dianggap relevan bagi pelajar yang sedang menyiapkan langkah setelah lulus SMA.
Sejumlah narasumber dihadirkan, mulai dari Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kepemudaan Dikpora NTB H. Tarmidzi, Hurul In yang membahas bahaya Merarik Kodek, hingga Kirana yang memberikan pelatihan menggambar batik. Baiq Almira Gina Afrianti bertindak sebagai Ketua Panitia kegiatan.
H. Tarmidzi yang akrab disapa Pak Ajik menyampaikan materi pertama. Ia mendorong para siswa lebih percaya diri dalam menggali kemampuan dan potensi yang dimiliki.
Menurutnya, pemuda perlu mencatat apa yang disukai dan kelebihannya. Cara lain adalah berani bergabung dengan organisasi sekolah seperti OSIS, Pramuka, PMR, dan kepanitiaan lain untuk melatih kerja sama dan kepemimpinan.
Ia juga menyarankan pelajar mencoba hal baru. Berani keluar dari zona nyaman lewat pelatihan, kursus keterampilan, atau kegiatan sosial dapat membuka wawasan dan menemukan bakat tersembunyi.
Masukan dari orang tua, guru, atau teman dinilai membantu pemuda melihat kualitas diri yang mungkin belum disadari. Pemanfaatan teknologi dan wadah kreatif juga disebutnya penting.
"Mengikuti workshop atau pelatihan digital membuat pemuda lebih produktif dan inovatif," tambahnya.
Ia menegaskan setiap individu memiliki kelebihan masing-masing yang dapat dikembangkan menjadi prestasi apabila diasah secara konsisten.
"Setiap orang pasti memiliki kelebihan. Maka dari itu, galilah kemampuan yang ada tersebut untuk menjadi sesuatu yang membanggakan," ujarnya.
Pak Ajik mengajak pelajar tidak ragu menetapkan cita-cita dan terus mengembangkan kemampuan di bidang akademik maupun nonakademik. Masa sekolah disebutnya momentum penting untuk membangun fondasi masa depan.
Narasumber lain, Hurul In, menyoroti fenomena Merarik Kodek atau pernikahan pada usia anak. Ia mengingatkan pelajar agar mempertimbangkan secara matang dampaknya terhadap keberlangsungan pendidikan dan rencana masa depan.
"Biasanya setelah menikah, seseorang akan memiliki keterbatasan dalam berbagai hal, termasuk dalam mengejar karier atau cita-cita," kata Hurul In.
Ia menjelaskan pernikahan pada usia anak menghadirkan berbagai tantangan dalam kehidupan, termasuk persoalan psikologis dan sosial yang berpotensi memengaruhi proses pengembangan diri.
Karena itu, Hurul In mengajak siswa memanfaatkan masa muda untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan bakat.
"Buat generasi muda, kejarlah cita-citamu setinggi-tingginya. Berkaryalah dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki, karena itulah salah satu jalan untuk meraih kesuksesan," pesannya.
Narasumber dari Paguyuban Putri Kebaya, Kirana, memberikan pelatihan menggambar batik alami menggunakan daun, kembang, ranting, dan bahan lain dari alam. Pelatihan ini dilombakan dan langsung mendapatkan hadiah di akhir acara.
Ketua Panitia Baiq Almira Gina Afrianti merasa puas atas kegiatan ini. Pihaknya berharap kegiatan ini memberikan manfaat bagi peserta dan bisa diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
Pada kegiatan ini juga ditampilkan penyanyi berbakat dari siswi SMKN 1 Dompu, Anis Tasya, yang menghibur semua peserta pelatihan.