LOMBOK TIMUR — Gubernur Nusa Tenggara Barat H. Lalu Muhamad Iqbal membuka langsung SMMF 2026. Menurutnya, event olahraga berbasis wisata seperti ini punya arti strategis bagi NTB karena menyatukan olahraga, keindahan alam, dan pengalaman budaya.
Peserta terbagi dalam tiga kategori: Full Marathon 42 kilometer, Half Marathon 21 kilometer, dan Fun Run 7 kilometer. Lintasan membawa pelari menyusuri jalur perbukitan dan trail Sembalun, dengan panorama Gunung Rinjani, Bukit Pergasingan, dan Bukit Nanggi sebagai latar.
Arah SMMF sejalan dengan upaya Pemprov NTB mengembangkan sport tourism sebagai agenda pariwisata daerah. Pemerintah tidak hanya mendorong marathon dan lari lintas alam, tetapi juga cabang lain seperti tenis dan selancar.
Mandalika terus dikembangkan sebagai kawasan sport tourism. Tambora mulai dijajaki sebagai lokasi potensial untuk event berikutnya. Pendekatan ini diharapkan menumbuhkan potensi olahraga dan pariwisata di berbagai wilayah NTB, dari selatan hingga utara, timur hingga barat.
Dampak SMMF tidak berhenti di lintasan lomba. Kehadiran peserta dan pendamping membuka ruang bagi aktivitas ekonomi warga sekitar, mulai dari kuliner, kopi Sembalun, hingga berbagai produk lokal.
Bagi NTB, pola ini yang ingin terus diperkuat: event mendatangkan orang, destinasi memberikan pengalaman, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi.
Gubernur Miq Iqbal mencontohkan perkembangan Rinjani 100 yang bermula dari skala kecil dan kemudian tumbuh menjadi event internasional. SMMF diharapkan berkembang melalui proses serupa—pelan, konsisten, dan semakin profesional.
"Pelan tapi pasti, event-event seperti ini akan berkembang, semakin dikenal, dan menjadi kebanggaan baru bagi masyarakat NTB," ujar Gubernur Miq Iqbal.
Ia menekankan SMMF perlu terus dikembangkan secara bertahap hingga memiliki identitas dan brand yang kuat. Pertumbuhan event tidak cukup ditandai jumlah peserta, tetapi juga profesionalisme penyelenggaraan dan luasnya manfaat bagi masyarakat.
Salah seorang peserta asal Belanda, Nike, mengaku mendapat pengalaman berbeda dalam SMMF. Perpaduan bukit, jalur trail, panorama alam, dan budaya lokal membuat pengalaman berlari di Sembalun lebih dari sekadar kompetisi olahraga.
Berkembangnya sport tourism di kaki Rinjani membawa tanggung jawab menjaga modal utama kawasan ini. Alam Sembalun, lanskap Rinjani, dan kekayaan budaya masyarakat bukan sekadar latar event, melainkan aset yang menentukan keberlanjutan pariwisata.
Karena itu, pengembangan sport tourism diarahkan tidak semata mengejar jumlah peserta dan skala kegiatan. Pertumbuhan harus berjalan bersama profesionalisme penyelenggaraan, perluasan manfaat ekonomi, serta kepedulian terhadap kelestarian alam dan budaya lokal.
SMMF menjadi gambaran bagaimana pariwisata NTB dibangun dari daerah: membawa dunia datang ke kaki Rinjani, memperkenalkan alam dan budaya NTB, sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat yang menjadi bagian dari destinasi.