MATARAM — Dialog publik yang digelar EW-LMND NTB menghadirkan empat narasumber dari lintas latar belakang. Selain Lalu Hadrian Irfani, forum ini mengundang Isnaini dari Universitas Muhammadiyah Mataram, Assoc. Prof. Dr. Syamsuriansyah dari Universitas Bima Internasional, serta praktisi pendidikan NTB Sadrul Imam. Kegiatan dimulai pukul 16.00 WITA.
Ketua EW-LMND NTB Arif Haryadin menyebut kehadiran Wakil Ketua Komisi X DPR RI sebagai momentum penting bagi mahasiswa dan masyarakat NTB. Menurutnya, forum ini membuka ruang penyampaian aspirasi secara langsung kepada pengambil kebijakan di tingkat nasional.
Tema "Membaca Arah Pendidikan" menyoroti empat persoalan utama: pemerataan akses, peningkatan mutu, kesejahteraan guru, dan keadilan anggaran. Arif menilai pendidikan tidak hanya soal ruang kelas dan proses belajar mengajar.
Ia mengaitkan pendidikan dengan masa depan generasi muda, kesempatan memperoleh pendidikan layak, kualitas tenaga pendidik, hingga kebijakan anggaran yang menjangkau masyarakat secara merata.
"Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak H. Lalu Hadrian Irfani yang telah hadir di tengah-tengah kami. Ini merupakan kesempatan penting bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, terutama terkait persoalan pendidikan di NTB," ujar Arif dalam sambutannya.
Arif secara khusus menitipkan harapan kepada Lalu Hadrian Irfani agar aspirasi pendidikan masyarakat NTB diperjuangkan di tingkat nasional. Salah satu perhatian utama adalah perluasan akses beasiswa bagi putra-putri daerah, mulai jenjang S1, S2, hingga S3.
"Kami berharap Bapak H. Lalu Hadrian Irfanti dapat terus memperjuangkan kepentingan pendidikan masyarakat NTB, termasuk memperluas akses dan kuota beasiswa S1 maupun S2 bagi anak-anak NTB. Banyak generasi muda kita yang memiliki potensi, tetapi masih membutuhkan dukungan dan kesempatan," tegas Arif.
Selain beasiswa, EW-LMND NTB mendorong perhatian pada pemerataan akses pendidikan, peningkatan mutu sekolah, kesejahteraan guru, dan keadilan pengalokasian anggaran pendidikan.
Bagi Arif, forum dialog publik berfungsi mempertemukan gagasan antara mahasiswa, akademisi, praktisi pendidikan, dan pengambil kebijakan. Ia menyebut dialog ini menjadi bahan masukan dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang berpihak pada kebutuhan masyarakat.
"Pendidikan adalah investasi masa depan. Karena itu, suara mahasiswa dan masyarakat harus terus didengar agar arah kebijakan pendidikan benar-benar menjawab kebutuhan daerah," pungkas Arif.