MATARAM — Posisi keenam NTB dalam senarai nasional itu bersaing rapat dengan Aceh di peringkat kelima yang mencatat 15,32 persen. Selisih NTB dengan Aceh hanya 0,19 poin persentase, sementara Kepulauan Bangka Belitung di urutan keempat membukukan 15,44 persen.
Angka kunjungan perpustakaan warga NTB melampaui Bengkulu yang berada di bawahnya dengan 14,46 persen. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS tahun 2025 menjadi dasar pemeringkatan ini.
Sumatera Barat memimpin daftar dengan persentase kunjungan perpustakaan tertinggi sebesar 17,75 persen. Daerah Istimewa Yogyakarta menyusul di posisi kedua dengan 16,78 persen, lalu DKI Jakarta di urutan ketiga sebesar 16,05 persen.
Di bawah Bangka Belitung dan Aceh, NTB menutup kelompok enam besar. Komposisi ini menunjukkan provinsi di luar Jawa dan Sumatera ikut menonjol dalam pemanfaatan fasilitas perpustakaan.
Dukungan infrastruktur perpustakaan disebut menjadi salah satu pendorong utama capaian NTB. Kehadiran ruang baca yang memadai di berbagai kabupaten/kota memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan.
Program perpustakaan keliling turut menjangkau pelajar dan warga umum di wilayah yang jauh dari gedung perpustakaan. Peran aktif komunitas membaca di daerah melengkapi layanan pemerintah daerah tersebut.
Kesadaran warga NTB memanfaatkan fasilitas perpustakaan tercatat tumbuh signifikan. Peningkatan ini tidak terlepas dari program literasi daerah yang berjalan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait dinilai perlu melanjutkan kerja sama agar tren positif kunjungan perpustakaan bertahan. Langkah lanjutan itu juga dibutuhkan untuk menaikkan posisi NTB pada survei berikutnya.
Posisi keenam dari sepuluh provinsi teratas memberi modal bagi NTB untuk memperkuat budaya baca. Jarak dengan Aceh di peringkat kelima tergolong tipis, sehingga penambahan layanan baca berpotensi mendongkrak peringkat daerah ini.