NUSA TENGGARA BARAT — Liburan mewah kini bergeser dari sekadar bersantai menjadi pengalaman berburu, memancing, dan memetik hasil alam langsung. Sejumlah hotel eksklusif dunia menawarkan paket "farm-to-table" versi baru yang melibatkan tamu sejak dari sumbernya. Tren ini menyasar traveler yang ingin memahami asal-usul makanan, bukan sekadar menikmatinya di meja restoran.
Dua wajah pariwisata mewah muncul belakangan ini. Ada hotel yang memanjakan tamu tanpa perlu mengangkat jari, dan ada pula yang justru mengajak tamu menyingsingkan lengan baju, menelusuri hutan, atau bahkan menguliti hewan buruan hasil tangkapan sendiri.
Pergeseran ini bukan tanpa alasan. Tamu hotel bintang lima mulai mencari keterampilan lama yang tergerus kehidupan perkotaan, seperti memancing, memetik hasil hutan, dan mengolah bahan mentah jadi santapan.
Di Skotlandia barat, tamu diajak memetik jamur chanterelle di tengah angin laut. Di Semenanjung Cape, Afrika Selatan, mereka mencungkil kerang dari bebatuan pesisir. Sementara di Pantai Amalfi, Italia, tamu menaiki perahu kayu buatan nelayan lokal untuk menangkap cumi.
Cumi tangkapan itu kemudian dibersihkan, dimasak, dan disantap sebagai hidangan totani e patate. Pengalaman semacam ini disebut sebagai iterasi baru konsep farm-to-table, yang kini merambah ke perburuan dan penangkapan hasil laut.
"Traveler semakin penasaran dengan budaya di balik apa yang mereka makan," kata Leopoldo Elefante, executive chef Casa Angelina di Praiano, Italia, seperti dikutip dari laporan media pariwisata internasional.
Menurut Elefante, tamu tidak lagi sekadar ingin mencicipi hidangan lokal. Mereka ingin tahu dari mana bahan makanan itu berasal. Casa Angelina sendiri meluncurkan ritual totani atau penangkapan cumi pada tahun lalu, lengkap dengan pengalaman memetik tomat dan memancing dengan lentera kuno pada malam hari.
Clare Sammells, associate professor antropologi di Bucknell University yang meneliti makanan dan pariwisata, melihat jawabannya pada sifat liburan yang membebaskan. Saat traveling, orang merasa berada di ruang baru yang sakral dan terbebas dari rutinitas kantor.
Kondisi itu membuat aktivitas di luar kebiasaan, termasuk menyembelih babi atau menangkap ikan sendiri, terasa lebih mungkin dilakukan. Dari sinilah keinginan untuk mengenal asal makanan tumbuh lebih dalam.
Contoh paling mencolok datang dari Vermejo, cagar alam seluas 558.000 acre milik Ted Turner Reserve di New Mexico, Amerika Serikat. Dulu tempat ini dikenal sebagai pondok berburu tradisional.
Kini Vermejo menawarkan safari bison, snowtubing, dan perawatan spa, berdampingan dengan paket berburu dan memancing. Tamu bisa pulang ke kamar dengan kasur empuk setelah menangkap rusa elk atau trout, lalu belajar memfillet dan memasaknya bersama chef.
Seorang konservasionis turut menjelaskan peran perburuan dalam menjaga keanekaragaman hayati. Bagi sebagian tamu, kombinasi kenyamanan dan keterampilan alam inilah yang jadi daya tarik utama.
Tren ini bukan hal baru bagi komunitas adat di Amerika Utara. Berburu, memancing, dan meramu hasil alam secara berkelanjutan sudah lama jadi bagian hidup sehari-hari mereka.
Traveler yang ingin mendalami pengetahuan itu bisa menginap di Wahous Wilderness Lodge, usaha perhotelan milik Ahousaht First Nation di Clayoquot Sound, British Columbia. Lodge ini menawarkan pengalaman memancing dengan filosofi kuliner tide-to-table, dari pasang surut laut langsung ke meja makan.
Bagi traveler Indonesia yang tertarik mencoba konsep serupa, sejumlah hal perlu diperhatikan sebelum berangkat.
Untuk informasi terkini soal paket dan tarif, traveler sebaiknya menghubungi langsung pengelola lodge atau dinas pariwisata setempat.
Liburan bertema alam seperti ini menuntut durasi lebih panjang, idealnya tiga hingga lima hari, agar tamu sempat mengikuti seluruh proses dari pencarian bahan hingga santapan akhir. Pengalaman yang ditawarkan bukan sekadar foto, melainkan keterampilan yang terbawa pulang.