NUSA TENGGARA BARAT — Pabrik BYD di Subang Smartpolitan kembali didatangi ormas yang menuntut prioritas tenaga kerja lokal, padahal 5.000 pekerja Indonesia sudah bekerja di fasilitas berinvestasi Rp 11,7 triliun itu. Tuntutan kedua ormas menyoroti izin tata ruang dan limbah produksi, bukan sekadar rekrutmen. Target BYD sendiri mencapai 20.000 pekerja lokal saat produksi maksimal.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan sekumpulan orang mendatangi kawasan pabrik BYD di Subang Smartpolitan. Mereka menuntut perusahaan memprioritaskan tenaga kerja lokal sekaligus meminta evaluasi kerja sama terkait izin tata ruang dan limbah produksi. Aksi serupa bukan yang pertama terjadi di fasilitas ini.
Sebelum pabrik diresmikan pada September 2026, pembangunan sarana produksi BYD sempat terganggu persoalan premanisme dan ormas. Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mengungkap hal itu saat memenuhi undangan Pemerintah China dalam rangkaian kunjungan ke Shenzhen pada 2025.
"Sempat ada permasalahan terkait premanisme, ormas yang mengganggu pembangunan sarana produksi BYD. Saya kira itu harus tegas. Pemerintah perlu tegas untuk kemudian menangani permasalahan ini," kata Eddy dalam akun Instagramnya kala itu.
Pernyataan Eddy memberi konteks bahwa tekanan terhadap proyek ini sudah berlangsung lama, jauh sebelum produksi berjalan. Pemerintah daerah dan pusat menghadapi ujian konsistensi dalam menjaga iklim investasi di kawasan industri Subang.
Angka resmi dari BYD membantah anggapan bahwa perusahaan mengabaikan tenaga kerja Indonesia. Vice President of BYD Co., Ltd Liu Xueliang menyebut pabrik dengan nilai investasi Rp 11,7 triliun itu sudah mempekerjakan lebih dari 5.000 tenaga kerja lokal.
Liu juga memberi penilaian positif terhadap etos kerja pekerja Indonesia. "Tenaga kerja di Indonesia 5 ribu orang lebih, staf Indonesia sangat rajin dan tekun dalam melakukan pekerjaan," ucapnya saat peresmian.
Seiring peningkatan skala produksi, BYD memasang target penyerapan tenaga kerja yang jauh lebih besar. Saat kapasitas pabrik mencapai titik maksimal, perusahaan berharap total 20.000 pekerja Indonesia bisa bergabung.
"Pabrik ini ketika sudah mencapai kapasitas produksi maksimal. Target kami 20 ribu pekerja Indonesia yang bisa bergabung," tambah Liu.
Dampak ekonomi tidak berhenti di serapan tenaga kerja. Seluruh proses manufaktur di pabrik Subang dilakukan langsung di dalam negeri secara komprehensif, sehingga diharapkan mendongkrak industri komponen lokal. Artinya, setiap kenaikan volume produksi berpotensi menambah permintaan dari pemasok dalam negeri.
Klaim 5.000 pekerja lokal berasal dari pernyataan pihak BYD saat peresmian, belum ada data independen yang memverifikasi komposisi dan status kontraknya. Tuntutan ormas soal izin tata ruang dan limbah produksi juga belum mendapat tanggapan resmi dari perusahaan maupun pemerintah daerah dalam bahan yang tersedia.
Bagi calon pekerja, informasi lowongan dan jalur rekrutmen resmi BYD Indonesia belum dirinci. Pantau kanal resmi perusahaan agar tidak terjebak perantara tidak resmi yang memanfaatkan momen seperti ini.