MATARAM — Kepala Pelaksana BPBD NTB Sadimin menyebut kejadian kebakaran menyentuh berbagai objek, mulai dari lahan, permukiman, hingga pusat ekonomi. Dari total kerugian Rp 75,05 miliar, petugas berhasil menyelamatkan harta benda senilai Rp 11,41 miliar.
Data BPBD NTB periode 1 Januari hingga 31 Oktober 2026 juga mencatat 3.503 jiwa terdampak. Sebanyak 1.430 kepala keluarga atau 3.516 jiwa berhasil diselamatkan dalam penanganan kejadian tersebut.
Dua orang meninggal dunia dan 11 lainnya mengalami luka-luka akibat peristiwa kebakaran sepanjang periode itu.
Dari klasifikasi objek yang terbakar, kebakaran lahan menempati urutan teratas dengan 603 kejadian. Kebakaran permukiman menyusul dengan 250 kejadian, TPS sebanyak 144 kejadian, dan kategori lainnya 148 kejadian.
"Kebakaran juga terjadi di sejumlah objek yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi dan pelayanan publik," ujar Sadimin.
Rinciannya, 60 kejadian kebakaran di pusat ekonomi, 31 kejadian pada objek vital, 22 kejadian di fasilitas kesehatan, serta 11 kejadian di kantor. Fasilitas pendidikan tercatat 10 kejadian, hotel atau penginapan tujuh kejadian, masing-masing dua kejadian pada fasilitas ibadah dan transportasi. Untuk kategori kebakaran hutan, BPBD NTB mencatat nihil kejadian.
Mengacu sebaran wilayah, Lombok Timur menjadi daerah dengan kejadian kebakaran terbanyak, yakni 280 kejadian. Kebakaran lahan di daerah tersebut mencapai 157 hektare, disertai 31 kejadian kebakaran TPS dan 31 kejadian kebakaran permukiman.
Sumbawa menyusul dengan 196 kejadian. Kebakaran lahan di wilayah ini mencapai 110 hektare, disusul 30 kejadian kebakaran permukiman dan 24 kejadian pada TPS.
Dominasi kebakaran lahan di dua wilayah itu menunjukkan pola yang perlu diwaspadai, terutama pada musim kemarau ketika lahan kering mudah terbakar. BPBD NTB belum merinci langkah pencegahan lanjutan untuk sisa tahun 2026.