Penjualan LCGC Turun 11 Persen Januari–September 2026, Mobil Listrik Murah Jadi Pesaing

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Jumat, 06 November 2026 | 12:03:31 WIB
Penjualan wholesales LCGC tercatat 83.997 unit pada Januari–September 2026, turun 11 persen dibanding periode sama tahun lalu.

NUSA TENGGARA BARAT — Penjualan wholesales mobil LCGC turun 11 persen menjadi 83.997 unit sepanjang Januari–September 2026, dari 94.327 unit pada periode sama 2025. Penurunan terjadi saat pasar otomotif nasional justru tumbuh, dengan harga mobil listrik berbasis baterai yang makin kompetitif disebut sebagai salah satu pemicunya.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat distribusi LCGC dari pabrik ke dealer mencapai 83.997 unit pada sembilan bulan pertama 2026. Angka itu turun dari 94.327 unit pada Januari–September 2025.

Penurunan juga terlihat di jalur ritel. Distribusi kendaraan dari dealer ke konsumen tercatat 90.527 unit, turun 7 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebanyak 97.732 unit.

Mobil Listrik Murah Mulai Masuk Rentang Harga LCGC

Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto menyebut harga sejumlah mobil listrik kini mulai bersaing dengan LCGC. Beberapa model BEV bahkan sudah dipasarkan di bawah Rp 200 juta.

Selisih harga pembelian yang menipis membuat konsumen punya opsi baru di kelas entry-level. Faktor biaya operasional ikut menggeser pertimbangan, karena kendaraan listrik berbasis baterai menawarkan pengeluaran harian yang relatif lebih murah dibanding mobil bermesin bensin.

Kombinasi harga jual dan biaya pakai itu membuat sebagian pembeli mulai melirik BEV sebagai kendaraan pribadi, bukan lagi sekadar pilihan kedua.

Pasar Nasional Tumbuh, LCGC Justru Melambat

Yang membuat penurunan ini menonjol adalah arah pasar yang berlawanan. Secara nasional, penjualan otomotif menunjukkan pertumbuhan positif pada periode yang sama.

Artinya, LCGC kehilangan porsi di tengah pasar yang sedang naik. Segmen mobil murah ramah lingkungan yang dulu jadi pintu masuk utama kepemilikan mobil baru kini menghadapi pesaing dari ceruk yang berbeda.

Dampak ke Konsumen dan Pemain LCGC

Bagi konsumen, pilihan di rentang harga di bawah Rp 200 juta makin terbuka. Namun ada catatan yang perlu dicermati: infrastruktur pengisian daya dan nilai jual kembali BEV belum setara dengan mobil bensin.

Bagi pabrikan LCGC, tekanan ini memaksa mereka mempertajam nilai jual. Fitur keselamatan, konsumsi bahan bakar, dan kemudahan servis jadi pembeda yang harus terus dijaga.

Gaikindo belum membeberkan proyeksi penjualan LCGC untuk sisa 2026. Namun tren sembilan bulan pertama memberi gambaran bahwa persaingan di segmen entry-level tidak lagi hanya soal harga beli.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: metropekalongan.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top