MATARAM — Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan pidato keras di hadapan jajaran Forkopimda, ASN, dan TNI-Polri saat memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan disrupsi teknologi global, Miq Iqbal menyebut Pancasila telah membuktikan diri sebagai jangkar moral yang membuat Indonesia tetap utuh meski terdiri dari lebih 17.000 pulau dan ratusan etnik.
Peringatan tahun ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”. Gubernur yang juga mantan Duta Besar RI untuk Turki itu membacakan pidato Kepala BPIP yang menekankan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab konstitusional melaksanakan ketertiban dunia sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945.
Pancasila sebagai Instrumen Diplomasi Global
Miq Iqbal menegaskan bahwa politik luar negeri bebas aktif Indonesia bukanlah slogan kosong. Nilai musyawarah dan mufakat yang menjadi DNA bangsa ini, kata dia, kini menjadi instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik.
“Ini adalah pengejawantahan dari Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” ujar Miq Iqbal dalam pidatonya.
Gubernur juga menyoroti kontribusi nyata Indonesia di kancah internasional, mulai dari pengiriman Pasukan Perdamaian di bawah bendera PBB, peran mediasi dalam konflik regional, hingga konsistensi menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa terjajah.
Pesan untuk Generasi Muda: Lawan Intoleransi
Di hadapan peserta upacara, Miq Iqbal menitipkan pesan khusus agar Pancasila dijadikan sebagai living ideology—bukan sekadar teks di buku sejarah atau hiasan dinding kantor. Ia mendorong generasi muda menjadi penjaga masa depan yang aktif melawan intoleransi dan radikalisme.
Setiap kebijakan publik yang lahir, lanjutnya, harus berlandaskan keadilan sosial dan menjamin hak-hak masyarakat terkecil. “Jangan biarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan,” tegasnya menutup pidato.
Upacara berlangsung tertib dan penuh nasionalisme. Seluruh elemen yang hadir berkomitmen untuk terus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang kuat karena persatuan dan nilai-nilai kemanusiaannya.