GIRI MENANG — Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar) mulai mengubah strategi penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Fokus utama kini dialihkan untuk menembus hambatan geografis di kawasan terpencil yang selama ini sulit dijangkau oleh pendekatan distribusi konvensional.
Ketua Satgas MBG Lobar, H. Saepul Ahkam, mengungkapkan bahwa berdasarkan pendataan terbaru, masih terdapat lebih dari 1.000 warga di wilayah 3T yang belum tersentuh program ini. Sejauh ini, intervensi gizi di kawasan pelosok tersebut baru mencakup beberapa dusun saja.
Pemkab Lombok Barat memutuskan untuk tidak lagi menggunakan pendekatan kaku dalam menentukan sasaran di wilayah 3T. Langkah ini diambil agar proses verifikasi dan distribusi makanan tambahan bisa lebih fleksibel mengikuti kondisi lapangan di dusun-dusun terluar.
"Tidak perlu lagi menggunakan pendekatan 3T secara kaku. Diperkirakan jumlah sasaran di wilayah ini mencapai lebih dari 1.000 orang yang belum terlayani," ujar Saepul Ahkam saat memberikan keterangan di Giri Menang, baru-baru ini.
Pihaknya menekankan pentingnya validasi data ulang untuk memastikan tidak ada warga rentan yang terlewat. Meski angka penerima sudah mencapai ratusan ribu, Satgas MBG meyakini masih ada celah distribusi yang harus ditutup melalui penambahan titik layanan baru.
Saat ini, operasional program di Lombok Barat ditopang oleh 114 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap unit rata-rata melayani 1.800 hingga 2.500 jiwa, sebuah angka yang dinilai terlalu tinggi untuk menjaga kualitas layanan yang optimal.
Pemerintah daerah berencana melakukan penciutan proporsi beban kerja per unit layanan. Target idealnya, setiap SPPG hanya melayani sekitar 1.200 sampai 1.500 jiwa agar pengawasan gizi dan distribusi logistik, termasuk penataan wadah makanan (ompreng), berjalan lebih efektif.
Peningkatan jumlah SPPG di masa mendatang diharapkan mampu memperluas cakupan sekaligus memperpendek jarak distribusi ke rumah-rumah warga atau sekolah di pelosok. Dukungan operasional juga terus diberikan ke sekolah-sekolah untuk memastikan standar kebersihan wadah makanan tetap terjaga.
Data penerima MBG di Lombok Barat saat ini mencakup kelompok masyarakat yang luas. Selain siswa dari jenjang TK/PAUD hingga SMA sederajat, program ini juga menyasar kelompok 3B yang terdiri dari ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), serta balita non-PAUD usia 6–59 bulan.
Khusus untuk kelompok 3B, tercatat ada 53.489 warga yang sudah masuk dalam daftar penerima manfaat. Angka ini merupakan bagian dari total 255.271 jiwa yang saat ini dilayani oleh pemerintah kabupaten melalui SPPG yang tersebar di berbagai kecamatan.
Menariknya, program ini tidak hanya menyasar peserta didik. Berdasarkan ketentuan terbaru, tenaga kependidikan atau guru di sekolah-sekolah sasaran juga mendapatkan jatah Makan Bergizi Gratis sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan yang sehat di Lombok Barat.