MATARAM — Capaian ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren ekspansi yang sangat kuat pada awal tahun 2026. Data resmi mencatat nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah ini menyentuh angka Rp52,62 triliun, sebuah indikasi pertumbuhan yang melampaui standar rata-rata regional.
Lonjakan ekonomi ini dipicu oleh performa impresif di sejumlah lapangan usaha. Industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan tertinggi mencapai 60,25 persen, disusul sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 31,80 persen secara year-on-year.
Sektor yang bersentuhan langsung dengan aktivitas harian warga juga bergerak positif. Jasa keuangan tumbuh 13,48 persen, sementara sektor penyediaan akomodasi serta makan minum mengalami peningkatan sebesar 10,84 persen.
Laju pertumbuhan juga terlihat pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 9,91 persen serta transportasi dan pergudangan yang naik 7,65 persen. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi tumpuan banyak warga turut menguat di angka 10,31 persen.
Kepala Dinas Kominfotik NTB Dr. H. Ahsanul Khalik menjelaskan bahwa komposisi ekonomi saat ini tidak hanya bergantung pada satu bidang. Pertanian masih menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 22,23 persen, diikuti pertambangan 19,71 persen, perdagangan 14,10 persen, dan konstruksi 8,31 persen.
"Ekspor memang menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 91,87 persen, tetapi konsumsi rumah tangga tetap tumbuh 5,15 persen, dan investasi tumbuh 3,71 persen," ujar Ahsanul Khalik dalam keterangan tertulisnya.
Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik tetap berjalan beriringan dengan permintaan eksternal. Sektor penunjang lain seperti pengadaan air tumbuh 8,39 persen, sementara administrasi pemerintahan dan jasa pendidikan masing-masing naik di atas 5 persen.
Terkait adanya anggapan bahwa pertumbuhan ini rapuh, Ahsanul menilai hal tersebut sebagai kekeliruan dalam membaca data secara parsial. Meskipun terjadi kontraksi triwulanan sebesar -1,30 persen (q-to-q) akibat penurunan ekspor, kondisi ini dianggap lumrah bagi daerah berbasis komoditas.
"Menggunakan data triwulanan untuk menilai kekuatan ekonomi tahunan justru berisiko menyesatkan," tegas Ahsanul.
Ia menambahkan bahwa dalam perspektif ekonomi pembangunan, ketimpangan antar sektor pada tahap awal merupakan konsekuensi transformasi yang tidak terhindarkan. Ukuran keberhasilan yang lebih relevan adalah sejauh mana efek pertumbuhan tersebut mulai menyebar ke berbagai sektor riil secara luas.