MATARAM — Program "Museum Masuk Sekolah" yang digagas Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menyasar SD 5 Batu Mekar, Lingsar, pekan ini. Dalam kegiatan bertajuk "NTB Mendongeng: Bunda Sinta Bercerita", para siswa tidak hanya mendengar dongeng, tetapi juga bermain permainan tradisional dan mengenal koleksi museum.
Bunda Literasi NTB, Sinta Agathia Iqbal, menjadi pendongeng utama dalam sesi tersebut. Ia membawakan cerita rakyat "Kadal Nongak", sebuah kisah yang sarat nilai kehidupan masyarakat tradisional Lombok.
Menurut Sinta, penyampaian materi secara tatap muka di kelas kerap tidak sepenuhnya efektif untuk anak-anak. "Melalui mendongeng, dengan cara yang menyenangkan, menggunakan gestur dan berbagai gimik, pesan yang ingin disampaikan lebih mudah diterima dan diingat oleh anak-anak," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Mataram.
Metode ini, lanjut dia, sudah terbukti di berbagai daerah mampu menanamkan nilai budaya sejak usia dini. Pihaknya terus memperkuat kolaborasi dengan komunitas literasi, tenaga pendidik, dan Bunda PAUD agar kegiatan serupa bisa menjangkau lebih banyak sekolah.
Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menambahkan, kegiatan mendongeng bukan sekadar hiburan. "Lewat dongeng terbentuk kedekatan emosional yang hangat. Dan sekaligus menjadi media transfer nilai, budaya, dan norma sosial dari orang tua kepada anak," tuturnya.
Program ini menjadi salah satu langkah museum untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan budaya daerah. Ahmad menilai kebudayaan merupakan bagian penting dari pembangunan berkelanjutan yang harus diperkenalkan sejak dini.
Alfauzi Rolan Saputra, siswa kelas enam yang mengikuti kegiatan, mengaku senang. Ia mengaku termotivasi untuk lebih rajin belajar dan membaca setelah mendengar cerita dari Bunda Sinta. "Saya merasa termotivasi untuk terus belajar, membaca, supaya bisa sukses seperti Bunda Sinta," katanya.
Program Museum Masuk Sekolah ini terselenggara berkat kolaborasi Museum Negeri NTB bersama Kampung Dongeng Mataram dan Alo Main. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan terus digelar di sekolah-sekolah lain di Lombok untuk membendung menurunnya minat anak muda terhadap budaya lokal.