NUSA TENGGARA BARAT — Pada usia 34 tahun, Neymar kembali menjadi andalan Brasil di Piala Dunia. Keputusan Ancelotti mengundang kontroversi, terutama setelah performa sang pemain yang meredup di Al-Hilal. Namun, bagi Brasil, Neymar tetaplah figur yang taktergantikan — sekaligus beban psikologis yang terus menghantuinya sejak 2010.
Neymar melakukan debutnya untuk Brasil pada 2010, tepat saat bangsa itu mulai meregenerasi skuad pasca-kegagalan di Afrika Selatan. Saat itu, Messi berusia 23 tahun dan sudah menjadi bintang. Publik Brasil pun mendesak: mereka butuh Messi-nya sendiri.
"Neymar adalah pemain yang menyenangkan sekaligus membuat frustrasi," tulis Jonathan Wilson dalam analisisnya. "Dia adalah wadah tempat faksi-faksi yang bersaing menuangkan narasi mereka."
Puncak tekanan terjadi di Piala Dunia 2014. Neymar mengalami fraktur vertebra setelah dihantam lutut Juan Camilo Zúñiga di perempat final. Kepergiannya dari turnamen menciptakan histeria nasional. Tanpa "sang mesias", Brasil kebobolan tujuh gol dari Jerman di semifinal.
Suasana Rio de Janeiro keesokan harinya digambarkan hening mencekam, seperti setelah bencana nasional. "Sebuah negara kehilangan akal sehatnya," tulis Wilson, "membangun Neymar menjadi pemain yang sebenarnya bukan dirinya."
Empat tahun kemudian, Brasil tersingkir oleh Belgia di perempat final. Neymar, saat itu 26 tahun, berdiri sendirian di parkir stadion Kazan, membungkuk di bawah beban ekspektasi. Kekalahan itu bukan sepenuhnya salahnya, tapi kehadirannya menciptakan celah taktis yang dieksploitasi Roberto Martínez.
Belgia memindahkan Romelu Lukaku ke sayap kanan, menyerang sisi kiri Brasil yang rapuh. Akomodasi terhadap Neymar menuntut pergeseran di lini tengah, namun Brasil tidak punya Rodrigo De Paul. Hasilnya: ketidakseimbangan dan kekalahan.
Sejak Copa América 2011, Neymar dikenal tidak tahan saat lawan "satu level di atasnya". Bek Venezuela Roberto Rosales memulai, lalu Dario Verón dari Paraguay menyempurnakan. Para bek mulai menendangnya, dan Neymar mulai antisipasi kontak, melebih-lebihkan, pura-pura, dan diving.
Puncaknya di Piala Dunia 2014: tekel Zúñiga yang hampir pasti ceroboh, bukan jahat, namun Neymar dihujat habis-habisan oleh federasi Brasil dan menjadi sasaran kampanye kebencian di media sosial. Setahun kemudian, ia dikartu merah karena sundulan ke belakang saat diprovokasi Kolombia.
Brasil kini kembali menghadapi dilema yang sama: apakah Neymar bisa menjadi Messi-nya mereka, atau justru menjadi alasan kegagalan? Jawabannya akan ditentukan di lapangan — bukan di atas kertas.