MATARAM — Suhu dingin yang melanda NTB pada akhir Mei lalu kini berganti. Warga yang sempat mengenakan jaket saat beraktivitas di luar rumah pada malam hingga pagi hari, mulai merasakan udara yang lebih hangat dalam dua hari terakhir.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Ari Wibianto mengatakan, suhu minimum rata-rata di NTB tercatat sekitar 20,5 derajat Celcius. Angka ini naik signifikan dibandingkan suhu terendah sebelumnya yang mencapai 18,5 derajat Celcius pada periode yang sama pekan lalu.
Menurut Ari, faktor utama perubahan suhu ini adalah melemahnya kecepatan angin timuran yang bertiup dari Australia. Angin Monsun Australia sebelumnya membawa massa udara dingin dan kering dari Benua Australia yang sedang memasuki musim dingin menuju NTB.
"Beberapa hari terakhir kecepatan angin cenderung melemah, sehingga pengaruh massa udara dingin dari Australia berkurang," jelas Ari di Mataram, Selasa (2/6).
BMKG juga mendeteksi peningkatan kelembaban udara di atmosfer NTB. Kondisi ini mendukung pertumbuhan awan, meski tidak sebanyak saat musim hujan. Keberadaan awan dan kelembaban yang lebih tinggi membuat proses pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer pada malam hari tidak berlangsung efektif.
Saat langit cerah, panas bumi lepas cepat ke atmosfer sehingga suhu malam turun drastis. Namun dengan tutupan awan, panas terperangkap di permukaan dan membuat udara malam terasa lebih hangat.
BMKG memperkirakan kondisi suhu yang relatif lebih hangat masih berpotensi bertahan dalam beberapa hari ke depan. Hal ini bergantung pada dua faktor utama: Angin Monsun Australia tidak kembali menguat, dan kelembapan udara tetap berada pada level yang cukup tinggi.
Sebelumnya, suhu dingin di NTB pada akhir Mei disebabkan oleh tiga faktor: minimnya tutupan awan saat siang, kelembaban udara rendah, serta pergerakan angin yang sudah memasuki Monsun Australia. Kini, ketiga faktor tersebut berubah seiring melemahnya angin timuran.
Sementara di Nusa Tenggara Timur (NTT), BMKG justru mengeluarkan peringatan dini potensi angin kencang selama musim kemarau. Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang Riris Eliza Helen mengatakan, angin kencang yang bersifat kering berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Waspadai angin kencang yang sifatnya kering yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah NTT," kata Riris di Kupang, Minggu (31/5).
BMKG mencatat suhu udara di NTT berkisar antara 13 hingga 33 derajat Celsius dengan kelembapan udara 45 hingga 90 persen. Tidak ada wilayah di NTT yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem pada periode tersebut.