MATARAM — Mahasiswa yang hendak mengajukan proposal Program Aksara Mahasiswa 2026 tidak cukup bermodal ide. Mereka wajib turun ke lapangan, menemui warga, dan memetakan kebutuhan sebelum menyusun rencana kerja. Hal itu ditegaskan Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Risbang Kemdiktisaintek, I Ketut Adnyana, dalam sosialisasi yang digelar di Mataram, Sabtu (8/8/2026).
Adnyana mengingatkan agar proposal tidak disusun berdasarkan asumsi semata. Menurutnya, mahasiswa memegang peran kunci di seluruh tahapan program, mulai dari menemukan persoalan, berkomunikasi dengan masyarakat dan mitra, hingga menjalankan solusi berbasis riset dan teknologi.
“Sebelum menyusun proposal, temui dan dengarkan masyarakat, kemudian rumuskan kebutuhan mereka menjadi proposal yang baik,” ujarnya.
Program Aksara Mahasiswa 2026 membuka dua skema pengabdian yang bisa dipilih perguruan tinggi. Pertama, Aksara Peduli yang menyasar pemberdayaan masyarakat di bidang pangan, energi, kesehatan, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Kedua, Aksara Sirkular yang fokus pada pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, termasuk edukasi, pemilahan, hingga pengembangan ekonomi sirkular.
Adnyana menambahkan, program ini dirancang agar kegiatan mahasiswa tidak sekadar memenuhi kewajiban akademik. Dua tujuan harus berjalan beriringan: mahasiswa mendapat pengalaman belajar, sementara masyarakat menerima manfaat nyata.
Kepala LLDIKTI Wilayah VIII, I Gusti Lanang Bagus Eratodi, meminta perguruan tinggi menciptakan lingkungan yang mendukung jalannya program. Dukungan itu bisa berupa pendampingan dosen, rekognisi pembelajaran, hingga penyediaan fasilitas. Kampus juga didorong membangun kerja sama dengan pemerintah daerah dan mitra terkait agar program berjalan optimal.
“Jadikan program ini sebagai wadah untuk mengasah kepemimpinan, kepekaan sosial, dan keterampilan berpikir kritis,” kata Eratodi.
Rektor Unizar Mataram, Muh. Ansyar, menyambut baik pelaksanaan sosialisasi di kampusnya. Ia menilai program ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menuangkan gagasan inovatif sekaligus menerapkan kepedulian sosial melalui kegiatan yang terstruktur.
“Kami menyambut baik kehadiran Program Aksara Mahasiswa di Mataram. Program ini menjadi wadah strategis bagi mahasiswa untuk menuangkan gagasan, pemikiran inovatif, serta kepedulian sosial ke dalam karya yang terstruktur dan memberikan dampak nyata,” katanya.
Para peserta mendapat pembekalan soal kebijakan program, mekanisme pengajuan, persyaratan, luaran, hingga penyusunan proposal. Sesi diskusi dimanfaatkan mahasiswa dan dosen untuk membahas gagasan yang bisa dikembangkan sesuai persoalan di daerah masing-masing.
Mahasiswa Unizar, Dian Aprilia, mengaku mendapatkan pemahaman baru soal orientasi dampak dalam pengabdian. “Kami semakin memahami bahwa program pengabdian tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga harus mampu menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Senada, Qaiz Ainurrahmadika dari Akademi Bisnis Lombok menilai kegiatan ini membuka kesempatan bertukar gagasan dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Ia juga mengaku terbantu memahami cara menyusun program yang berkelanjutan.
Melalui program ini, Kemdiktisaintek menargetkan kegiatan pengabdian mahasiswa lebih dekat dengan kebutuhan warga. Kampus diharapkan menjadi penghubung antara riset dan inovasi dengan persoalan nyata di daerah.