Penertiban Tambang Ilegal Dorong Produksi PT Timah Naik 75%, Laba Melonjak 805%

Penulis: Zaki Mubarak  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:23:01 WIB
Laba bersih PT Timah Tbk melonjak 805 persen menjadi Rp2,71 triliun pada paruh pertama 2026.

NUSA TENGGARA BARAT — Realisasi laba bersih PT Timah Tbk (TINS) pada paruh pertama 2026 mencapai Rp2,71 triliun, melonjak sekitar 805 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp300 miliar. Capaian ini sekaligus melampaui target laba bersih perseroan sepanjang 2026 yang dipatok Rp1,61 triliun.

Pendapatan perseroan ikut terdongkrak 147 persen menjadi Rp10,42 triliun dari Rp4,22 triliun pada semester I 2025. Kinerja ini ditopang oleh pemulihan volume produksi dan penjualan yang berjalan signifikan.

Produksi Bijih Timah Pulih 75 Persen

Produksi bijih timah TINS pada semester I 2026 tercatat 12.232 ton Sn, naik sekitar 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 6.997 ton Sn. Produksi logam timah juga meningkat menjadi 10.865 metrik ton.

Volume penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, melonjak sekitar 85 persen dari 5.933 metrik ton pada semester I 2025. Perbaikan ini disebut sebagai dampak positif dari komitmen pemerintah dalam menertibkan tambang ilegal.

Instruksi Presiden Tekan Pertambangan Ilegal

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memperkirakan sektor shadow atau pertambangan timah di luar sistem resmi mencapai sekitar 80 persen dari total produksi di Bangka Belitung. Reuters pernah melaporkan pemerintah menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di provinsi tersebut.

Indonesian Tin Exporters Association memperkirakan hingga 12.000 ton timah dapat diekspor secara ilegal setiap tahun. Manajemen TINS sebelumnya menyebut persaingan dengan penambang ilegal sebagai salah satu faktor yang menekan produksi, dengan produksi bijih timah pada semester I 2025 turun 32 persen secara tahunan.

Ketika aktivitas ilegal ditekan, pasokan bijih yang sebelumnya berada di jalur informal berpeluang kembali masuk ke rantai pasok resmi. Kondisi ini membuka ruang bagi TINS untuk meningkatkan perolehan bijih, produksi, dan volume penjualan.

Harga Timah LME dan Kapitalisasi Pasar

Kinerja perseroan juga ditopang harga timah yang tinggi. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) pada semester I 2026 mencapai USD50.319 per metrik ton, naik 56,7 persen dari USD32.116 per metrik ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbaikan fundamental tersebut tercermin pada kapitalisasi pasar TINS yang mencapai sekitar Rp28,75 triliun pada Agustus 2026, melonjak dari kisaran Rp7,6 triliun pada Agustus 2025.

Valuasi Masih Menarik bagi Investor

Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, merekomendasikan buy untuk TINS dengan target harga Rp4.700 hingga Rp5.000 per saham. Rekomendasi ini mempertimbangkan pertumbuhan kinerja, harga timah global, dan komitmen penertiban tambang ilegal.

Dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 4,49 kali, valuasi TINS dinilai masih relatif murah dibandingkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih perseroan. Net profit margin TINS mencapai sekitar 26 persen dan return on equity (ROE) sekitar 51 persen.

Dari sisi industri, prospek harga timah dunia masih positif seiring potensi kekurangan pasokan akibat meningkatnya kebutuhan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: akurat.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top