GIRI MENANG — Gelombang tinggi yang menerjang pesisir Lombok Barat sejak empat hari terakhir memaksa ratusan warga di dua desa mengungsi ke rumah keluarga yang lebih aman. Air laut yang masuk ke pemukiman memang tidak sampai merendam rumah, tetapi warga mengaku tak berani tidur karena gemuruh ombak terdengar seperti gempa.
Dua desa yang paling parah terdampak adalah Desa Taman Ayu di Kecamatan Gerung dan Desa Kuranji Dalang di Kecamatan Labuapi. Di Taman Ayu, banjir rob menggenangi pekarangan rumah dan merusak sejumlah sampan milik nelayan.
Ketua Kelompok Masyarakat Nelayan Desa Taman Ayu, Lalu Ahmad, menyebutkan jumlah nelayan yang terdampak cuaca buruk ini mencapai 150 KK atau sekitar 450 jiwa. Beberapa unit perahu milik nelayan rusak setelah dihantam gelombang tinggi.
Salah seorang warga Dusun Taman, Hairiah, menuturkan air laut mulai naik sejak empat hari terakhir. "Tapi hari ini yang parah, hingga masuk ke pemukiman warga," ujarnya saat ditemui di lokasi.
Ia mengaku warga yang rumahnya berada di pinggir pantai terpaksa mengevakuasi diri. "Tidak berani tidur karena gemuruh ombak seperti gempa rasanya," kata Hairiah.
Kepala Desa Kuranji Dalang, Sidik, mengatakan dua dusun di wilayahnya terkena banjir rob, yakni Dusun Kuranji Dalang dan Kuranji Bangsal. "Kejadiannya persis sama waktunya seperti di Taman Ayu, pada pagi hari. Yang terdampak di kami 270 KK, kalau jiwa sekitar 700 jiwa," sebutnya.
Para nelayan di kedua desa sudah hampir sepekan tidak bisa melaut akibat gelombang tinggi. Kondisi ini membuat warga kehilangan mata pencaharian utama mereka dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kami berharap bantuan sembako, karena ini (gelombang tinggi) diperkirakan sampai empat lima hari ke depan," harap Sapii, warga lainnya yang mengaku banjir rob tahun ini termasuk lumayan parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Pelaksana BPBD Lombok Barat, H. Ramdan Hariyanto, bersama Camat Gerung Fitriati Wahyuni telah turun ke lokasi untuk memantau kondisi terkini. Ia memastikan banjir rob di sejumlah titik sudah mulai surut.
"Ada perahu nelayan rusak (patah)," kata Hari sapaan akrab Kalak BPBD ini.
Penanganan jangka pendek yang disiapkan berupa bantuan sembako kepada warga terdampak. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas DKP Ketapang dan Dinas Sosial terkait distribusi logistik.
Di masa paceklik ini, para nelayan mengisi waktu dengan memperbaiki alat tangkap seperti jaring. Mereka juga berharap mendapatkan bantuan alat tangkap, sebab selama hampir beberapa tahun terakhir warga tidak pernah menerima bantuan serupa dari pemerintah.