NUSA TENGGARA BARAT — Pelemahan rupiah tidak hanya terjadi di pasar spot. Data kurs referensi JISDOR juga menunjukkan posisi rupiah yang sama, yakni bertengger di level Rp17.876 per dolar AS. Artinya, tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut setelah sebelumnya sempat menyentuh level Rp17.861.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan rupiah. Ketegangan antara AS dan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz belum menunjukkan titik terang. Washington bahkan mengklaim telah menyerang sebuah kapal di Teluk Oman yang diduga menuju Iran, aksi yang semakin memperkeruh suasana.
"Teheran sebelumnya mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali Washington memenuhi tuntutan ganti rugi mereka, tuntutan yang ditolak keras oleh Presiden AS Donald Trump," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Situasi di Selat Hormuz menjadi momok bagi pasar minyak. Jalur pelayaran vital ini memasok sekitar 20% kebutuhan minyak dunia sebelum konflik pecah. Aktivitas pelayaran melalui selat tersebut kini minim karena tidak ada kemajuan berarti menuju kesepakatan antara kedua negara.
Kekhawatiran akan kelangkaan pasokan bertambah setelah kelompok Houthi kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb. Kelompok yang didukung Iran tersebut bahkan telah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Rangkaian konflik pekan ini menunjukkan minimnya tanda-tanda meredanya ketegangan di Asia Barat. Para pedagang pun tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak lebih lanjut. Kondisi ini secara langsung menopang harga minyak mentah dunia yang berpotensi terus menguat.
Kenaikan harga komoditas energi ini menjadi beban tambahan bagi negara-negara importir seperti Indonesia, yang pada akhirnya ikut menekan nilai tukar rupiah di pasar keuangan.