8 Tolak Ukur Penilaian Ketua KONI NTB 2026–2030: Mori Hanafi vs Lalu Muhamad Iqbal Jelang PON 2028

Penulis: Wendra Kusuma  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:28:28 WIB
Mori Hanafi dan Lalu Muhamad Iqbal menjadi kandidat calon Ketua KONI NTB periode 2026–2030 yang dinilai kapasitasnya jelang PON 2028.

MATARAM — Kontestasi kursi Ketua KONI Nusa Tenggara Barat periode 2026–2030 tidak bisa disederhanakan hanya menjadi pertarungan popularitas dua figur. Kandidat Doktor Olahraga sekaligus pengamat olahraga NTB, Hasbi, menilai kepengurusan baru harus mampu menjawab tantangan strategis yang jauh lebih kompleks dari periode sebelumnya.

NTB tidak hanya dituntut meningkatkan prestasi atlet di kancah nasional. Sebagai calon tuan rumah PON XXII 2028, KONI daerah harus memiliki pemimpin yang bekerja secara terencana, kolaboratif, dan profesional.

"Pertanyaannya bukan sekadar siapa yang lebih populer atau siapa yang memiliki dukungan lebih besar, melainkan siapa yang memiliki kapasitas paling sesuai dengan tantangan olahraga NTB empat tahun ke depan," kata Hasbi dalam analisisnya, Senin (16/6).

Tiga Modal Utama Calon Ketua

Hasbi yang juga akademisi di bidang Manajemen Olahraga ini menggunakan teori kepemimpinan Robert L. Katz sebagai pisau analisis. Ada tiga kemampuan utama yang dijadikan tolak ukur: technical skill, human skill, dan conceptual skill.

Dari sisi pengalaman organisasi, Mori Hanafi dinilai memiliki modal kuat. Ia menguasai dinamika internal KONI dan memiliki jejaring politik di tingkat nasional. Sementara itu, Lalu Muhamad Iqbal datang dengan latar belakang pemerintahan dan diplomasi, plus posisinya sebagai kepala daerah.

"Namun dalam manajemen olahraga, modal awal bukanlah hasil akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana modal tersebut digunakan untuk menyusun strategi dan menghasilkan perubahan nyata," ujar Hasbi.

Kemampuan Mengelola Manusia dan Kepentingan

KONI bukan organisasi yang bekerja sendirian. Di dalamnya bernaung puluhan cabang olahraga, atlet, pelatih, KONI kabupaten/kota, pemerintah, hingga dunia usaha. Ketua terpilih wajib mampu membangun komunikasi dan kepercayaan di antara para pemangku kepentingan yang kerap memiliki kepentingan berbeda.

Perbedaan kepentingan adalah hal wajar dalam organisasi. Justru di situlah kapasitas pemimpin diuji. Pemimpin yang baik bukan yang menghilangkan perbedaan, tetapi mampu mengelolanya menjadi kekuatan kolektif.

"Siapa pun yang terpilih nantinya harus mampu menjadi ketua bagi seluruh cabang olahraga, termasuk pihak yang dalam Musorprov tidak memberikan dukungan," tegasnya.

PON 2028 Jadi Ujian Konkret Kepemimpinan

Aspek conceptual skill menjadi penentu utama. Ketua KONI NTB ke depan tidak cukup menjadi administrator yang rapi. Ia harus menjadi strategic leader yang mampu menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya.

Prestasi atlet bergantung pada kualitas pelatih. Kualitas pelatih ditentukan program pembinaan. Program pembinaan membutuhkan anggaran, dan anggaran menuntut tata kelola yang bersih. Semua itu mustahil berjalan tanpa fasilitas, kompetisi berjenjang, sport science, dan nutrisi yang memadai.

Sebagai tuan rumah PON 2028, NTB menghadapi dua target besar sekaligus. Pertama, mempersiapkan venue dan infrastruktur. Kedua, memastikan atlet tuan rumah tidak sekadar menjadi penonton di ajang yang mereka gelar sendiri.

Musorprov kali ini menjadi momentum menentukan arah olahraga NTB untuk empat tahun ke depan. Pilihan jatuh pada figur yang tidak hanya populer, tetapi terbukti mampu bekerja dengan sistem, bukan sekadar mengandalkan kedekatan personal atau preferensi politik.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: ayolombok.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top