NUSA TENGGARA BARAT — Menteri Sekretaris Negara dalam kabinet bayangan itu merespons tegas spekulasi yang berkembang di publik. Ia menyebut tudingan bahwa gerakannya disiapkan untuk mengerek elektabilitas tokoh tertentu atau menjadi embrio partai baru sama sekali tidak berdasar.
"Kami sedang tidak bergerak ke sana (Pilpres 2029). Kami sedang menggerakkan kesadaran publik luas," ujar Feri dalam podcast The Daily Buzz Okezone, Rabu (12/8/2026).
Komitmen Anggota Menolak Jabatan Politik
Feri menjelaskan, seluruh anggota kabinet bayangan telah berkomitmen untuk tidak menerima jabatan pemerintahan tertentu sebagai konsekuensi logis dari keterlibatan mereka. Hal ini, menurutnya, menjadi pembeda mendasar dengan formasi kabinet bayangan yang pernah muncul di era sebelumnya yang erat kaitannya dengan kepentingan partai politik.
Konsep yang dibangun saat ini, kata dia, diarahkan untuk memperkuat mekanisme checks and balances yang dinilainya mandul di lembaga legislatif. "Kita membangun oposisi publik yang selama ini tidak kita rasakan di lembaga legislatif," tegas dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas itu.
Spekulasi Dukungan Partai dan Tokoh Politik
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Survei dan Polling Indonesia (SPIN) Igor Dirgantara mengingatkan bahwa kabinet bayangan berisiko kehilangan kredibilitas tanpa sokongan institusi politik formal. Ia menilai dukungan partai atau tokoh populer diperlukan agar gerakan ini tidak sekadar menjadi bahan tertawaan publik.
"Atau jangan-jangan sudah ada diam-diam yang support atau partai politik baru gitu. Iya, apa juga mendapat (dukungan) dari Anies Baswedan kan bisa aja atau Ganjar Pranowo ya kan atau dari Partai PDIP," kata Igor dalam kesempatan yang sama.
Ia merujuk pada pengalaman historis di Indonesia di mana kabinet bayangan yang pernah terbentuk selalu memiliki keterkaitan langsung dengan kekuatan partai politik. Tanpa dukungan tersebut, efektivitas gerakan untuk mengawasi pemerintah dipertanyakan.
Feri Amsari: Kritik dan Cemoohan Silakan
Feri mengaku tidak mempermasalahkan berbagai tudingan yang dialamatkan kepada gerakannya. Ia justru mempersilakan publik untuk melontarkan kritik, termasuk tuduhan bahwa kabinet bayangan hanya berisi buzzer atau kepanjangan tangan kepentingan kelompok tertentu.
"Nah, ini kan kami baru tiga minggu. Kami merasa silakan saja (dikritik) apa pun tudingannya. Buzzer lah, (pendukung) Anies lah, Gatot lah, Ganjar lah, PKS lah, inilah, itulah. Saya itu selalu menertawakan logika waktu dulu orang menuduh saya PKS, Uceng (Zainal Arifin Mochtar) PDIP," ujarnya.
Feri menegaskan bahwa gerakan yang baru berjalan tiga minggu ini tidak sedang mengejar kekuasaan. Ia menilai tuduhan-tuduhan yang muncul justru menunjukkan kecemasan pihak-pihak yang selama ini menikmati ketiadaan oposisi yang kritis terhadap kebijakan pemerintah.