Puncak Mulud Adat Bayan dan Festival Sangiang Api Warnai Akhir Pekan Terakhir Agustus di NTB

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:31:31 WIB
Puncak Mulud Adat Bayan di Lombok Utara diisi prosesi sakral mulai persiapan Nasi Ancak hingga Periapan di Masjid Kuno Bayan, Sabtu (29/8/2026).

MATARAM — Dua perayaan adat dengan karakter berbeda siap menyambut wisatawan di NTB pada akhir pekan ini. Masyarakat Bayan di Lombok Utara menggelar puncak prosesi Mulud Adat, sedangkan komunitas pesisir Sangiang di Kabupaten Bima membuka festival budaya bahari tahunan mereka.

Mulud Adat Bayan tahun ini terbilang istimewa. Perayaan yang masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 itu telah resmi dibuka pada Kamis (27/8/2026) dengan Parade Jong Bayan dan penampilan para penenun lokal.

Puncak acara pada Sabtu (29/8/2026) akan diisi serangkaian prosesi sakral. Rangkaian dimulai dengan persiapan Nasi Ancak sejak pukul 09.00 WITA, dilanjutkan Bisoq Meniq pada pukul 12.00 WITA, serta Merias Praja Mulud dua jam kemudian.

Prosesi inti berlangsung sore hari. Praja Mulud akan diarak dari Bat Orong menuju kawasan Masjid Kuno Bayan pada pukul 17.00–18.00 WITA, sebelum akhirnya digelar Periapan di halaman masjid bersejarah tersebut.

Aturan Adat Tetap Dipegang Teguh di Tengah Status Nasional

Meski kini berstatus event nasional, masyarakat Bayan tidak melonggarkan aturan adat mereka. Juru Kunci Masjid Kuno Bayan, Raden Palasari, menegaskan bahwa bulan Mulud adalah waktu untuk menahan diri dari berbagai kegiatan tertentu.

"Kami memasuki bulan Mulud sudah ada aturan tidak menyelenggarakan urip, begawe atau pesta untuk mempersiapkan perayaan kelahiran Baginda Nabi dan bersiap menerima ajaran," kata Raden Palasari.

Konsekuensinya, pengunjung yang datang tidak sekadar menyaksikan pertunjukan budaya. Sejumlah prosesi berlangsung di ruang adat dengan ketentuan khusus, mencakup aturan berpakaian, batas area yang boleh dimasuki, hingga tata cara dokumentasi.

Festival Sangiang Api: Ritme Budaya Bahari yang Tergantung Angin

Pilihan perjalanan lain mengarah ke Pulau Sumbawa. Festival Sangiang Api 2026 di Kabupaten Bima akan dibuka secara resmi pada Minggu (30/8/2026), dengan daya tarik utama berupa kejuaraan sampan layar tradisional.

Kekuatan festival ini justru terletak pada ketergantungannya pada alam. Berbeda dengan perlombaan lain yang jadwalnya bisa dipatok panitia, sampan layar hanya bisa berlomba jika angin dan cuaca mendukung.

Tokoh adat Desa Sangiang, Ayang Saifullah, menjelaskan bahwa kepastian jadwal puncak acara belum bisa diberikan sejak awal. "Tanggal 30 untuk Opening Ceremony. Kalau puncaknya belum tahu karena tergantung cuaca dan angin, terutama untuk lomba perahu layar," ujarnya.

Ia menyarankan calon pengunjung untuk menghubungi panitia guna memastikan jadwal terbaru sebelum berangkat. Sebab, perubahan waktu lomba sangat mungkin terjadi mengikuti kondisi lapangan.

Dua Wajah Tradisi: Sakral di Darat, Dinamis di Laut

Bayan dan Sangiang menawarkan pengalaman yang saling melengkapi pada akhir pekan ini. Bayan menghadirkan kedalaman spiritual masyarakat Sasak yang terikat kuat pada ritual keagamaan, sementara Sangiang memperlihatkan keseharian masyarakat Bima yang hidup berdampingan dengan laut.

Bagi perencana perjalanan, kedua destinasi ini bisa dinikmati secara terpisah sesuai minat. Lombok Utara menawarkan kekayaan tradisi yang berakar pada ajaran Islam dan adat lokal, sedangkan Pulau Sumbawa menyuguhkan kegembiraan masyarakat pesisir yang ritmenya masih diatur oleh alam.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: kicknews.today This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top