NUSA TENGGARA BARAT — Anak usia 3–7 tahun sering melontarkan kata "benci" saat marah, kecewa, atau keinginannya tak terpenuhi. Kalimat itu bukan cerminan perasaan sebenarnya, melainkan cara anak melepas emosi besar yang belum bisa ia kelola.
Psikoterapis anak Lindsey Polishook Sherer, LCSW-C, LICSW, menyebut yang terpenting adalah bagaimana orang tua menanggapinya. "Sangat sulit mendengar anak menggunakan kata-kata tersebut. Hal terpenting yang perlu diingat adalah, mereka tidak bermaksud seperti itu," ujarnya seperti dilansir Parents.
Spesialis perkembangan anak Siggie Cohen, PhD, menjelaskan bahwa "aku benci kamu" sudah jadi cara paling jelas bagi anak untuk memproyeksikan emosi kuat seperti kemarahan, frustrasi, dan kekecewaan. Tujuannya satu: membuat orang tua merasakan sakit yang sama seperti yang ada di dalam hati anak.
Artinya, persoalannya bukan soal benci, melainkan komunikasi dan pengaturan emosi. Anak perlu belajar cara yang lebih sehat untuk menyampaikan perasaan, menghormati batasan, dan memikirkan ucapannya sebelum keluar.
Kalau anak mendapat reaksi besar setiap kali mengucapkan "aku benci kamu", ia bisa mengulanginya hanya untuk menarik perhatian. Bereaksi berlebihan atau langsung menghukum justru bumerang—anak jadi lebih sering mengatakannya.
Perhatikan apa yang muncul dalam pikiran Bunda saat mendengar kalimat itu. Ambil jeda sejenak untuk menenangkan diri, supaya bisa jadi teladan pengaturan emosi bagi anak.
Sebutkan dulu apa yang Bunda lihat, misalnya: "Saya bisa melihat kamu sangat marah sekarang. Itu masuk akal. Kamu benar-benar ingin terus bermain, dan sulit ketika kita harus berhenti."
Ini bukan berarti menyetujui luapan emosinya. Tujuannya memberi tahu anak bahwa perasaannya dipahami dan marah itu sendiri tidak apa-apa. Anak yang belajar sejak dini bahwa semua emosi wajar akan tumbuh dengan keterampilan pengaturan emosi yang lebih kuat.
Hindari tindakan yang mempermalukan, mengabaikan, atau membalas dengan kalimat "aku benci kamu" ke anak. Godaan itu memang besar saat emosi memuncak, tapi cara ini tidak menyelesaikan masalah.
Kalau Bunda terlanjur mengatakan sesuatu yang disesali, minta maaflah. Sikap itu mengajarkan anak cara bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahan.
Jika anak sulit menenangkan diri, bimbing ia untuk beristirahat. Memberi ruang atau keheningan membantu anak memproses apa yang dialaminya dan mencari tahu apa yang ia butuhkan.
"Memberikan ruang ini kepada anak, memberi kita kesempatan untuk membangun dan memperkuat hubungan dengan mereka," kata Sherer.
Pastikan anak tetap mendengar bahwa Bunda menyayanginya, terlepas dari apa yang ia katakan. Profesor perkembangan manusia dan ilmu keluarga di East Carolina University, Andy Brimhall, PhD, LMFT, menyarankan: "Katakan, 'Aku sayang kamu, aku ada di sini untukmu'."
Setelah suasana lebih tenang, ingatkan anak dengan lembut bahwa semua emosi itu wajar, tapi mengatakan benci kepada seseorang bisa menyakiti perasaannya. Contohnya: "Tidak apa-apa merasa marah, tetapi tidak boleh mengatakan aku membencimu ya."
Ajari anak mengenali dan menyebutkan nama emosinya—marah, sedih, kecewa, malu. Semakin kaya kosakata emosi anak, semakin mudah ia menyampaikan perasaan tanpa harus melontarkan kata "benci".
Kalimat "aku benci Bunda" sesekali masih wajar, terutama saat anak lelah, lapar, atau sedang transisi aktivitas. Tapi bila ucapan itu muncul hampir setiap hari disertai agresi fisik, anak menarik diri, atau pola ini berlangsung berbulan-bulan tanpa membaik, konsultasi ke psikolog anak bisa membantu memetakan pemicunya.
Yang paling penting, jangan berkecil hati. Kalimat itu bukan ukuran kasih sayang anak kepada Bunda, melainkan sinyal bahwa ia masih butuh bimbingan untuk mengenali dan mengelola emosinya.