Jimmy-Jay Morgan, Lulusan Akademi Chelsea yang Bersinar di West Brom

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Kamis, 10 September 2026 | 17:01:01 WIB
Pemain West Bromwich Albion, Jimmy-Jay Morgan, mengontrol bola dalam pertandingan Championship.

NUSA TENGGARA BARAT — West Bromwich Albion merekrut Jimmy-Jay Morgan dari Chelsea pada bursa transfer musim panas 2025. Pemain kelahiran Bournemouth itu menandatangani kontrak empat tahun dan langsung dipercaya mengisi lini serang The Baggies di Championship.

Catatan Statistik yang Melampaui Ekspektasi

Setelah enam pertandingan di kasta kedua Inggris, Morgan sudah mengoleksi tiga gol dan tiga assist. Ia memimpin timnya di kedua kategori tersebut. Menariknya, jumlah golnya melampaui nilai expected goals (xG) — indikasi bahwa ia mampu memaksimalkan peluang yang ada.

Produktivitas itu lahir dari kebiasaan sederhana. Morgan fokus melakukan hal-hal benar dan berada di posisi tepat saat tidak terlibat langsung dalam permainan. Ia tidak ragu menuntut bola dan selalu menjalankan pergerakan yang dibutuhkan tim.

Momen Krusial di Pride Park

Gol kemenangan West Brom atas Derby County lahir dari situasi tak terduga. Callum Styles membawa bola di sisi kiri kotak penalti Derby dan dilanggar. Bola kemudian bergerak cepat, dan Morgan mengirim umpan yang diselesaikan Aune Heggebo.

Namun, laga itu juga menguji sisi lain permainan Morgan. West Brom bermain dengan sepuluh orang setelah Brayann Pereira mendapat kartu merah pada menit ke-34. Heggebo ditarik keluar saat jeda, dan Morgan harus bermain sebagai penyerang tunggal di babak kedua.

Tugas itu jauh dari mudah. Morgan harus menjaga bola, memenangkan duel udara, dan menahan tekanan lini belakang Derby. Ia memenangkan tiga tendangan bebas saat melindungi bola — kontribusi yang tidak muncul di kolom gol atau assist, tetapi mendapat apresiasi dari suporter West Brom yang hadir di Pride Park.

Bekal dari Liga Dua dan Liga Satu

Ketangguhan Morgan bukan kebetulan. Chelsea meminjamkannya ke Gillingham di League Two pada Januari 2025, lalu ke Peterborough United di League One untuk sebagian besar musim berikutnya. Di kasta ketiga, ia mencetak gol dengan rasio lebih baik dari satu gol per tiga pertandingan.

Dalam wawancara pertamanya dengan media West Brom, Morgan mengakui periode di Gillingham dan Peterborough mengajarinya cara bermain tangguh dan tanpa henti. Karakter itu terpakai saat West Brom kehilangan satu pemain melawan Derby.

Manajer West Brom, James Morrison, menilai penampilan Morgan di Pride Park tidak lepas dari kerja kerasnya selama pramusim. Ia juga mengungkap instruksi yang diberikan kepada Morgan saat jeda.

"Kami bilang di jeda, dia harus mencoba memancing pelanggaran dengan benar-benar menggunakan tubuhnya. Kami bilang, 'Terus gunakan tubuhmu. Jadilah lebih kuat,'" ujar Morrison kepada FourFourTwo.

"Saya merasa dengan Morgan di depan, dengan kelincahannya, kami mungkin bisa naik ke area lawan," tambahnya.

Jalur Akademi yang Teruji

Perjalanan Morgan melalui sistem akademi terbilang tekstbook. Ia bergabung dengan Chelsea pada usia delapan tahun, tetapi menghabiskan enam tahun di Southampton sebelum kembali ke Surrey. Ia juga pernah memperkuat timnas Inggris U-20.

Keputusan Chelsea melepas Morgan ke West Brom, setelah sebelumnya mengirimnya ke dua klub divisi bawah, mulai menunjukkan hasil. Di usia 20 tahun, Morgan punya kombinasi latar belakang akademi elite dan pengalaman bertarung di liga-liga keras Inggris.

Enam pertandingan memang belum cukup untuk menarik kesimpulan besar. Tetapi bagi West Brom, rekrutmen Morgan sejauh ini membenarkan investasi mereka. Bagi Chelsea, keputusan soal masa depan pemain muda ini setidaknya memberi sinyal bahwa jalur pinjaman yang sering dikritik bisa tetap berfungsi.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top