NUSA TENGGARA BARAT — Huawei Pura X Max mencoba pendekatan berbeda dari Samsung Galaxy Z Fold8 lewat bodi pendek-lebar yang menyerupai paspor saat tertutup, ditemui langsung di Huawei Flagship Store Shenzhen, China. Ponsel lipat ini mengusung layar utama OLED fleksibel 7,7 inci, kamera utama RYYB 50 MP dengan variable aperture, dan chipset Kirin 9030 Pro, tapi masih eksklusif pasar China dan belum ada tanda-tanda masuk Indonesia.
Uzone.id berkesempatan mencoba langsung Huawei Pura X Max di Huawei Flagship Store, Shenzhen, China. Ini bukan unit retail yang dijual resmi di Indonesia, melainkan sesi hands-on singkat untuk merasakan build, layar, dan tata letak kamera. Karena durasinya terbatas, artikel ini fokus pada kesan awal, bukan verdict final performa harian.
Saat tertutup, Huawei Pura X Max punya dimensi 120 × 85 mm dengan ketebalan 11,2 mm. Bandingkan dengan Samsung Galaxy Z Fold8 yang bentuknya memanjang seperti buku, dan langsung terasa perbedaan filosofi desainnya.
Bobotnya sekitar 229 gram. Terasa padat di genggaman, tapi karena bodinya lebar dan pendek, titik tumpu di telapak tangan justru lebih nyaman dibanding lipatan model buku yang tinggi.
Ketika dibuka, lebarnya jadi 166,5 mm dan ketebalannya menyusut ke 5,2 mm. Rasio layar mendekati 3:2, membuatnya terasa lebih mirip tablet mini ketimbang ponsel yang diperlebar.
Panel utamanya OLED fleksibel 7,7 inci dengan resolusi 2.584 × 1.828 piksel. Refresh rate adaptif bergerak dari 1Hz sampai 120Hz, ditambah PWM dimming 1.440Hz dan touch sampling rate hingga 240Hz.
Huawei memakai lapisan Ultra Thin Glass pada layar dalam. Sayangnya, bekas lipatan di tengah panel masih cukup kelihatan, terutama saat layar memantulkan cahaya. Dari sudut pandang tertentu garis itu memudar, tapi tidak benar-benar hilang.
Layar luarnya 5,4 inci dengan resolusi 1.848 × 1.264 piksel, refresh rate adaptif 1Hz–120Hz, dan proteksi Kunlun Glass generasi kedua. Ukurannya sedikit lebih kecil dari layar luar Samsung Galaxy Z Fold8 yang disebut sekitar 5,5 inci.
Modul kamera berbentuk pil horizontal menonjol cukup besar dari bodi, dengan tulisan XMAGE di bawahnya. Konfigurasinya termasuk agresif untuk ukuran ponsel lipat.
Dari spesifikasi di atas kertas, kombinasi telephoto periskop dan variable aperture membuat Pura X Max tampak lebih serius dari iPhone Duo maupun Samsung Galaxy Z Fold8 di sektor fotografi. Tapi tanpa uji sampel foto di berbagai kondisi cahaya, klaim ini belum bisa dibuktikan.
Unit yang dicoba berwarna Vibrant Orange. Permukaannya dibagi dua tekstur: sebagian polos mengilap, sebagian lagi bergaris tipis dengan arah berbeda antar panel.
Huawei menyediakan tujuh warna untuk pasar China: Bordeaux Red, Nice Blue, Interstellar Blue, Vibrant Orange, Zero White, Olive Gold, dan Phantom Night Black. Varian selain oranye tampil lebih kalem dengan finishing polos dan aksen metalik di bingkai kamera.
Dapur pacunya Kirin 9030 Pro, dipadukan RAM 12 GB atau 16 GB dan penyimpanan 256 GB sampai 1 TB. Sistem operasinya HarmonyOS 7, yang berarti ekosistemnya berbeda total dari Android dan iOS.
Baterainya 5.300 mAh dengan fast charging 66W, wireless charging 50W, dan reverse wireless charging. Rating IP58 dan IP59 membuatnya tahan cipratan hingga rendam air, meski belum ada data konsumsi daya real-world dari sesi singkat ini.
Huawei Pura X Max menawarkan pendekatan desain yang berani: bodi paspor, layar 3:2, dan kamera telephoto periskop di ponsel lipat. Untuk pengguna yang mengutamakan konsumsi konten dan multitasking, rasio layarnya lebih masuk akal daripada lipatan model buku.
Tapi status eksklusif China dan absennya layanan Google membuatnya sulit direkomendasikan untuk pembeli Indonesia saat ini. Verdict final menunggu uji baterai, performa Kirin 9030 Pro, dan kualitas foto di kondisi nyata.