LOBAR — Rapat Fasilitasi Penyelesaian Masalah dan Hambatan Investasi yang digelar DPMPTSP Lobar Rabu (16/9) menjadi titik balik penanganan dua persoalan yang sudah lama dikeluhkan warga Gili Asahan. Dalam forum itu, pihak PLN memaparkan hasil kajian finansial, teknis, dan skema kelayakan bisnis penarikan jaringan listrik ke kawasan kepulauan tersebut.
Manajer Listrik Pedesaan (Lisdes) PT PLN (Persero) UIW NTB, Hendra, menjelaskan bahwa penarikan jaringan listrik ke Gili Asahan membutuhkan penganggaran besar jika ditinjau murni dari kacamata bisnis komersial. Meski demikian, dari segi teknis operasional, penarikan jaringan sangat memungkinkan untuk direalisasikan.
Jaringan Distribusi 600 Meter di Atas Permukaan Laut Jadi Opsi Terefisien
Berdasarkan kajian teknis PLN, opsi paling efektif dan efisien adalah membangun jaringan distribusi di atas permukaan laut. Jalur transmisi itu dirancang membentang sepanjang 600 meter dari daratan Pulau Lombok menuju Gili Asahan.
Gili Goleng akan dimanfaatkan sebagai titik perantara jaringan menara dan kabel. Untuk menutup besarnya pembiayaan proyek, PLN akan mengusulkan pembangunan infrastruktur kelistrikan melalui program Listrik Desa (Lisdes) yang didukung anggaran pemerintah pusat.
PLN Wilayah NTB akan memasukkan kawasan Gili Asahan ke dalam peta jalan usulan anggaran tahun 2027 yang diajukan kepada Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
"Kita mengharapkan dukungan pemangku kebijakan untuk penyiapan lahan dan kelengkapan perizinan," ujar Hendra.
KSOP Lembar hingga PUPR Lobar Siap Percepat Perizinan
Rencana pembangunan infrastruktur itu disambut baik instansi teknis terkait. Perwakilan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Lembar, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lobar menyatakan kesiapan memfasilitasi dan mempercepat proses perizinan sesuai regulasi yang berlaku.
Dukungan serupa datang dari pemerintah desa setempat. Pemerintah desa bahkan siap mendampingi pelaksanaan teknis di lapangan, termasuk menjalin komunikasi dengan pemilik lahan yang lahannya direncanakan menjadi titik penempatan tiang maupun landing point menara distribusi.
"Sudah ada titik terang atau solusi untuk merealisasi listrik dan air bersih di Gili Asahan yang sudah sekian lama dinantikan," terang Kepala Dinas PMPTSP, Heri Ramdhan, Senin (21/9).
Pipa Bawah Laut Belum Jangkau Batu Putih, SWRO Jadi Solusi Jangka Menengah
Soal kebutuhan air bersih, Heri mengungkapkan PTAM Giri Menang menyampaikan bahwa jaringan pipa air bersih saat ini baru mampu menjangkau wilayah Desa Sekotong Tengah. Perluasan jaringan perpipaan bawah laut menuju Desa Batu Putih hingga membelah perairan Gili Asahan membutuhkan waktu relatif panjang serta alokasi anggaran yang memadai.
Perusahaan daerah itu tetap memberikan solusi jangka pendek dan menengah yang paling rasional, yakni pembangunan instalasi pengolahan air bersih dengan memanfaatkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Teknologi desalinasi ini mampu mengolah air laut menjadi air tawar layak konsumsi melalui proses osmosis balik.
Kendalanya, pengoperasian mesin instalasi SWRO tersebut tetap bergantung pada ketersediaan pasokan listrik utama di kawasan Gili Asahan. Karena itu, penyelesaian jaringan listrik menjadi pintu masuk bagi solusi air bersih di wilayah tersebut.
Heri cukup optimistis langkah bersama ini akan membawa solusi untuk kawasan kepulauan Lobar itu.
"Mudah-mudahan dalam waktu dekat (listrik dan air bersih) sudah bisa dinikmati oleh pelaku usaha dan masyarakat setempat dan semakin banyak investor yang berminat berinvestasi di Gili Asahan," ujar Kadis.