Rupiah Melemah ke Rp18.076 per Dolar AS, Sentimen Risk-Off Global Menekan

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:34:31 WIB
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.076 per dolar AS pada perdagangan Jumat (23/10) pagi.

NUSA TENGGARA BARAT — Nilai tukar rupiah melemah 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp18.076 per dolar AS pada perdagangan Jumat (23/10) pagi, dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan datang dari meningkatnya sentimen penghindaran risiko di pasar global yang dipicu kekhawatiran atas kecerdasan buatan, eskalasi geopolitik Timur Tengah, dan memburuknya kondisi fiskal Prancis.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah hari ini lebih didorong faktor eksternal ketimbang domestik. Menurutnya, pasar sedang mencari aset aman di tengah ketidakpastian yang menumpuk di beberapa front sekaligus.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya sentimen risk-off global akibat kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan (AI), eskalasi geopolitik di Timur Tengah, dan memburuknya kondisi fiskal di Prancis," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Pasar Saham Domestik Jadi Penopang

Meski tekanan eksternal cukup kuat, Lukman melihat masih ada ruang bagi rupiah untuk bertahan. Sentimen di pasar saham domestik dinilai bisa menjadi bantalan jika kondisinya terus membaik.

Jika arus masuk ke pasar saham tetap terjaga, tekanan terhadap mata uang Garuda berpeluang mereda. Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS tidak seragam. Sebagian mata uang justru menguat, menunjukkan tekanan global tidak sepenuhnya merata.

  • Peso Filipina menguat 0,17 persen
  • Won Korea Selatan terapresiasi 0,27 persen
  • Yuan China bergerak datar
  • Ringgit Malaysia melemah 0,02 persen
  • Dolar Singapura turun 0,02 persen
  • Yen Jepang terkoreksi 0,11 persen
  • Dolar Hong Kong terdepresiasi 0,06 persen

Penguatan won dan peso menunjukkan sebagian pelaku pasar di Asia masih bersedia mengambil posisi risiko, meski skala penguatannya tipis. Sementara yuan yang datar mencerminkan sikap hati-hati otoritas China menjelang rilis data ekonomi berikutnya.

Mata Uang Negara Maju Ikut Terkoreksi

Di kelompok mata uang utama, dolar Kanada mencatat penguatan tipis 0,01 persen terhadap dolar AS. Sebaliknya, mayoritas mata uang negara maju lainnya melemah.

Euro turun 0,06 persen, pound sterling Inggris melemah 0,05 persen, dolar Australia terkoreksi 0,12 persen, dan franc Swiss turun 0,05 persen. Pelemahan euro dan pound sterling sejalan dengan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Prancis yang disebut Lukman sebagai salah satu pemicu risk-off.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Bagi investor, level Rp18.076 membuka peluang sekaligus risiko. Posisi dolar AS yang mahal bisa menjadi momentum untuk mengurangi eksposur valas jika rupiah dinilai sudah mendekati batas bawah rentang proyeksi.

Sebaliknya, pelaku bisnis dengan kebutuhan impor atau utang valas perlu mencermati pergerakan intraday. Rentang Rp17.900–Rp18.100 memberi ruang fluktuasi sekitar 200 poin yang cukup signifikan bagi perencanaan lindung nilai jangka pendek.

Eksportir justru diuntungkan oleh pelemahan rupiah, karena penerimaan dalam dolar AS setara rupiah menjadi lebih besar. Namun, keuntungan itu bisa tergerus jika tekanan global berlanjut dan menekan volume permintaan dari negara mitra dagang.

Faktor yang Perlu Dipantau

Perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi variabel utama dalam beberapa sesi ke depan. Eskalasi lebih lanjut berpotensi memperkuat dolar AS sebagai aset lindung nilai, sekaligus memperbesar tekanan pada rupiah.

Selain itu, arah sentimen pasar saham domestik akan menentukan apakah rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.100. Arus net buy asing di pasar saham menjadi indikator yang layak dicermati setiap hari, karena masuknya dana asing ke aset rupiah menjadi salah satu penopang utama kurs saat ini.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top