DOMPU — Pembukaan kejuaraan berlangsung di Lapangan Lembah Kara, arena pacuan kuda yang berada di Desa Lepadi, Kecamatan Pajo. Rifaid hadir membuka ajang tersebut secara resmi mewakili Bupati Dompu Bambang Firdaus.
Pemda Dompu menempatkan pacuan kuda sebagai warisan budaya turun-temurun yang mencerminkan etos kerja dan daya juang masyarakat Dompu. Penyelenggaraannya pun dinilai bukan sekadar pelestarian tradisi dan pembinaan olahraga equestrian.
Gagasan strategis datang dari pemilik kuda pacu finalis Kelas Dewasa B "Al Lizaz", Letkol Inf Dahlan. Putra daerah Sumbawa itu menyarankan Pemprov NTB bersama pemerintah kabupaten/kota menyusun kalender kejuaraan tahunan yang terintegrasi di seluruh arena pacuan kuda.
Menurut Dahlan, penjadwalan rutin dibutuhkan agar multiplier effect ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat secara berkelanjutan. Sinergi antara Pemprov NTB dan pemerintah daerah setempat menjadi syaratnya.
"Saran kami, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten harus bisa membuat jadwal kejuaraan event tahunan di setiap kabupaten/kota yang memiliki arena pacuan. Dengan tata kelola yang terstruktur, dampak ekonomi multiplier effect yang kita harapkan dapat sungguh-sungguh dirasakan oleh masyarakat secara merata," kata Dahlan.
Kejuaraan yang berlangsung hingga dua pekan membuka keran rezeki bagi sejumlah sektor usaha mikro. Harga jual kuda pacu unggulan meningkat, peluang kerja bagi joki dan perawat kuda terbuka, dan pengunjung berbelanja di lapak UMKM sekitar arena.
Perputaran ekonomi itu yang hendak dijaga agar tidak berhenti begitu event selesai. Dahlan menilai kolaborasi lintas daerah di Pulau Sumbawa menjadi kunci untuk mempertahankan arus kunjungan dan belanja warga.
Pemda Dompu belum memerinci jadwal penutupan maupun jumlah peserta yang turun di Lapangan Lembah Kara. Usulan kalender tahunan lintas kabupaten/kota itu kini menunggu pembahasan antara Pemprov NTB dan pemerintah daerah pemilik arena pacuan.