DOMPU — Masa giling tebu PT SMS tahun 2026 telah berakhir sejak 20 Oktober lalu. Meski aktivitas penggilingan sudah dihentikan, penutupan resmi masa giling dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober 2026.
Camat Pekat Dermawansyah menyebut pelaksanaan masa giling tahun ini telah rampung. Serapan tebu rakyat menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
"Sudah berhenti giling per tanggal 20 kemarin, tapi penutupan resminya tanggal 28 bulan ini," kata Dermawansyah kepada Suara NTB, Minggu (25/10).
Perbaikan harga menjadi faktor utama di balik menguatnya minat petani. Tahun ini, tebu dihargai Rp550 ribu per ton, naik Rp150 ribu dibandingkan harga tahun lalu yang berada di angka Rp400 ribu per ton.
"Harga sekarang lumayan tinggi ketimbang tahun kemarin. Sekarang Rp550 ribu per ton, tahun lalu Rp400 ribu per ton," jelas Dermawansyah.
Selisih Rp150 ribu per ton itu memberi harapan lebih besar bagi pekebun tebu di wilayah Kecamatan Pekat. Pendapatan petani ikut terdongkrak seiring perbaikan harga komoditas tersebut.
Dermawansyah menuturkan, meningkatnya serapan tebu rakyat tidak terlepas dari tumbuhnya semangat masyarakat mengembangkan usaha perkebunan tebu. Petani mulai melihat hasil yang menjanjikan dari usaha tersebut.
Kondisi itu membuat semakin banyak warga terdorong menekuni komoditas tebu sebagai sumber penghasilan. Serapan bahan baku ke pabrik gula PT SMS di Desa Doropeti pun ikut meningkat.
Dengan harga yang lebih baik dan serapan bahan baku yang naik, usaha tani tebu di Kecamatan Pekat berpeluang menjadi salah satu sumber penghasilan yang semakin menjanjikan bagi masyarakat.
Meski penggilingan sudah berhenti sejak 20 Oktober, penutupan resmi masa giling PT SMS baru digelar pada 28 Oktober 2026. Agenda itu menandai berakhirnya seluruh rangkaian operasional pabrik untuk musim ini.
Perbaikan harga dan naiknya serapan tebu rakyat menjadi modal bagi Kecamatan Pekat memasuki musim tanam berikutnya. Petani berharap tren harga positif itu bertahan hingga masa giling tahun depan.