MATARAM — Nama Kampung Banjar di Ampenan kerap membingungkan. Letaknya di Pulau Lombok, bukan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Penamaan itu justru merekam perjalanan panjang orang-orang Banjar yang menyeberang lautan ke Lombok.
Kedatangan mereka membawa misi membantu kerajaan Sasak ketika perang berkecamuk antara Karang Asem Bali dan Kerajaan Selaparang. Jejak perjalanan itu terekam dalam naskah Hikayat Lambung Mangkurat.
Kedekatan emosional antara komunitas Banjar dan penguasa Lombok terjalin lewat ikatan perkawinan. Raden Subangsa dari Banjar menikah dengan putri-putri Raja Selaparang.
Dari perkawinan itu lahir keturunan penguasa di Lombok dan Sumbawa. Hubungan kekerabatan tersebut memperkuat posisi komunitas Banjar di tanah Sasak.
Bukti paling nyata kehadiran orang Banjar berdiri di Kampung Banjar, yakni Masjid Banjar yang dibangun pada 1916. Masjid itu bukan sekadar tempat ibadah.
Bangunan tersebut menjadi penanda waktu yang membuktikan betapa akar komunitas Banjar sudah tertanam dalam di tanah Lombok. Usianya kini lebih dari satu abad.
Ampenan sendiri berevolusi menjadi pelabuhan besar sejak 1741 di bawah kendali I Gusti Wayan Taga. Posisi itu menjadikan Ampenan titik temu berbagai komunitas pendatang, termasuk orang Banjar.
Kampung Banjar menjadi salah satu sudut Ampenan yang menyimpan lapisan sejarah tersebut. Nama kampungnya bertahan hingga kini, menjadi pengingat asal-usul warga yang menetap lintas generasi.