ITDC Olah Sampah MotoGP Mandalika 2026, Cuma 8 Persen Berakhir di TPA

Penulis: Valdi Pratama  •  Jumat, 06 November 2026 | 22:00:31 WIB
Sampah MotoGP Mandalika 2026 dikelola dengan sistem ekonomi sirkular bersama warga desa penyangga kawasan The Mandalika.

NUSA TENGGARA BARAT — Sebanyak 47,4 ton sampah dihasilkan selama MotoGP Mandalika 2026 pada 9-11 Oktober 2026, tetapi hanya sekitar 8 persen yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir. ITDC mengolah sisanya lewat sistem ekonomi sirkular bersama warga desa penyangga kawasan The Mandalika.

Pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular diterapkan ITDC di Kawasan The Mandalika selama gelaran MotoGP 2026. Dari total sampah yang terkumpul, sekitar 51 persen berupa sampah organik dan 49 persen anorganik.

Beban TPA Turun dari 14 Persen ke 8 Persen

Proporsi sampah yang berakhir di landfill menyusut dibandingkan penyelenggaraan MotoGP 2025 yang masih 14 persen. Secara keseluruhan, volume sampah yang dihasilkan juga ditekan 15 persen meski jumlah penonton tahun ini lebih tinggi.

Efektivitas pengelolaan terlihat dari rasio timbulan sampah yang turun menjadi 0,3 kilogram per pengunjung. Pada MotoGP 2025, rasio itu masih 0,4 kilogram per pengunjung.

Food Surplus Management dan Maggot untuk Sisa Makanan

ITDC menerapkan food surplus management untuk mengoptimalkan penanganan makanan berlebih selama event berlangsung. Makanan yang masih layak konsumsi didistribusikan melalui sistem takeaway.

Sisa makanan yang tidak layak konsumsi diolah dengan metode Black Soldier Fly (BSF) atau maggot untuk dijadikan kompos. Proses ini melibatkan komunitas bank sampah dari desa-desa penyangga kawasan The Mandalika.

Alasan ITDC Pertahankan Prinsip Keberlanjutan di Setiap Event

Direktur Operasi ITDC Troy R. Warokka menyebut pengelolaan sampah sebagai salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan event internasional yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

"Pengelolaan sampah merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan penyelenggaraan event internasional yang bertanggung jawab terhadap lingkungan," sebut Troy dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).

Kolaborasi dengan warga lingkar kawasan disebut memberi manfaat ganda: mengurangi beban TPA sekaligus menghadirkan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Skema bank sampah desa penyangga menjadi tulang punggung pemilahan sejak dari sumber.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: suarantb.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top