MATARAM — Enam titik di Kota Mataram kini tidak lagi berfungsi sebagai tempat penampungan, melainkan lokasi transit untuk pemindahan sampah dari roda tiga ke dump truk. Kepala DLH Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, menyatakan sistem baru ini langsung membawa sampah ke TPA tanpa menumpuk. “Sampah langsung naik ke dump truk, tidak ada sisa,” jelasnya, Senin (15/6).
Dari 10.000 Ton Tersisa 4.000 Ton di Sandubaya
Sandubaya menjadi contoh paling nyata efektivitas kebijakan ini. Lokasi yang sebelumnya menampung hingga 10.000 ton sampah kini tinggal 4.000 ton. DLH menargetkan sisa timbunan tersebut segera terangkut habis. Penurunan volume itu sekaligus mengurangi beban lingkungan dan biaya operasional karena DLH tidak lagi membutuhkan alat berat untuk mengurai timbunan.
Enam Titik Transit: Dari Bintaro hingga Karang Baru
Keenam titik yang kini berfungsi sebagai lokasi pengangkutan langsung berada di Bintaro, Lawata, Pagutan, depan Universitas 45 Cakranegara, Karang Baru, dan Sandubaya. Petugas roda tiga mengangkut sampah dari permukiman, lalu memindahkannya ke dump truk yang sudah disiagakan di titik-titik tersebut sesuai jadwal. Pola kerja ini memastikan sampah tidak sempat mengendap.
Warga Rasakan Dampak Langsung: Bebas Bau dan Risiko Kesehatan
Selain efisiensi anggaran, dampak paling terasa bagi warga adalah lingkungan permukiman yang lebih rapi dan bebas bau. DLH menilai keberhasilan sistem ini sepenuhnya bergantung pada kedisiplinan operasional petugas di lapangan. “Dengan pola kerja teratur, sampah tidak sempat mengendap,” kata Denny.
DLH optimistis target kota bebas timbunan sampah dapat tercapai dalam waktu dekat. Dengan sistem pengangkutan langsung, Kota Mataram berangsur menuju wajah baru yang lebih bersih, tertata, dan nyaman bagi masyarakat.