MATARAM — Seluruh kabupaten dan kota di NTB yang menjadi titik pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi pada Juli 2026. Kabupaten Sumbawa mencatatkan penurunan terdalam di antara wilayah lainnya.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengungkapkan, deflasi kali ini tidak hanya ditopang oleh satu komoditas, melainkan kombinasi penurunan harga pangan dan barang berharga. "Deflasi didorong oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, khususnya komoditas cabai rawit, bawang merah, tomat, dan cabai merah," ujarnya dalam konferensi pers di Mataram, Senin (3/8/2026).
Musim Panen dan Harga Emas Global Dongkrak Deflasi
Wahyudin menjelaskan, penurunan harga komoditas pangan dipicu oleh peningkatan pasokan dari sentra produksi yang tengah memasuki masa panen. Kondisi ini membuat harga di tingkat konsumen otomatis terkoreksi.
Selain itu, tekanan deflasi juga diperdalam oleh sektor lain. "Penurunan harga emas perhiasan sejalan dengan penurunan harga emas di pasar global," imbuhnya.
Berikut lima komoditas penyumbang deflasi terbesar di NTB pada Juli 2026:
- Cabai rawit: 0,15 persen
- Bawang merah: 0,13 persen
- Emas perhiasan: 0,09 persen
- Tomat: 0,09 persen
- Cabai merah: 0,08 persen
Bensin dan Oli Mesin Menahan Laju Penurunan Harga
Meski secara umum harga turun, sejumlah komoditas justru mengalami kenaikan dan menahan laju deflasi. Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar, terutama akibat kenaikan harga bensin.
"Kenaikan harga bensin jenis Pertama yang terjadi bulan Juni masih memberikan dampak terhadap inflasi bulan Juli," jelas Wahyudin.
Kenaikan harga juga terjadi pada pelumas atau oli mesin yang dipengaruhi oleh naiknya harga bahan baku utama (base oil). Sementara itu, harga telepon seluler ikut terkerek akibat biaya bahan baku yang meningkat.
Komoditas lain yang turut menyumbang inflasi pada Juli 2026 antara lain ikan layang sebesar 0,05 persen, bensin 0,05 persen, pelumas 0,05 persen, ikan teri 0,04 persen, serta batu bata 0,04 persen.