MATARAM — Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini menyebutkan, hari tanpa hujan berturut-turut di sejumlah wilayah kini berada pada kategori menengah hingga sangat panjang. Kondisi ini dipicu oleh pengaruh iklim global El-Nino yang diprediksi masih akan bertahan hingga akhir tahun 2026.
Lima Kecamatan Siaga, 35 Hari Tanpa Hujan di Bima
Lima kecamatan yang masuk level siaga kekeringan meteorologis tersebar di empat kabupaten. Di Lombok Barat, yakni Kecamatan Sekotong. Lombok Tengah dengan Kecamatan Jonggat. Lombok Timur mencakup Kecamatan Pringgabaya dan Suela. Sementara di Dompu, ada Kecamatan Hu’u dan Manggalewa, serta Kecamatan Palibelo di Kabupaten Bima.
"Hari tanpa hujan paling panjang tercatat di Stasiun Meteorologi Muhammad Salahuddin di Kabupaten Bima yang mencapai 35 hari berturut-turut dan masuk kategori sangat panjang," kata Suci di Mataram, Sabtu.
El-Nino Diprediksi Menguat hingga Akhir Tahun
BMKG juga menetapkan sejumlah kecamatan di Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima dalam level waspada kekeringan meteorologis. Suci mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi meluasnya wilayah terdampak.
Berdasarkan pemantauan IOD pada dasarian terakhir, indeks berada di minus 0,49 (kategori negatif) dan berpeluang beralih menuju positif mulai Agustus hingga Desember 2026. Sementara anomali SST di wilayah Nino3.4 menunjukkan ENSO pada kategori El-Nino Moderat dengan indeks +1,40.
"El-Nino diprediksi bertahan pada kategori Moderat dengan peluang 100 persen dan berpotensi meningkat menjadi El-Nino kuat dengan peluang 86 persen hingga akhir tahun 2026," pungkas Suci.
Peluang Hujan Masih Rendah, Warga Diimbau Waspada Kebakaran
Pada dasarian III Juni 2026 atau periode 21-30 Juni, BMKG memprakirakan peluang hujan masih terbatas lebih dari 20 milimeter per dasarian dengan probabilitas sekitar 10 hingga 40 persen di sebagian wilayah Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
BMKG meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sembarangan dan tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan. Risiko kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman dinilai meningkat seiring panjangnya musim kering yang dipicu El-Nino moderat ini.