Pencarian

Museum Desa Genggelang di Lombok Utara Simpan Rompi Datu Besari, Jejak Kedatuan yang Lenyap

Senin, 06 Juli 2026 • 11:56:31 WIB
Museum Desa Genggelang di Lombok Utara Simpan Rompi Datu Besari, Jejak Kedatuan yang Lenyap
Rompi Datu Besari, peninggalan Kedatuan Besari, disimpan di Museum Desa Genggelang, Lombok Utara.

MATARAM — Di balik kesunyian Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara, tersimpan artefak yang menjadi jembatan menuju masa lalu yang nyaris terlupakan. Museum Desa Genggelang, yang dikelola Supardi, kini menyimpan rompi milik Datu Besari—penguasa Kedatuan Besari yang dalam kisah tutur masyarakat setempat lenyap secara tiba-tiba, berikut seluruh wilayah kekuasaannya.

"Ini baju (rompi) Datu Besari," ucap Supardi kepada Mataram Radio beberapa waktu lalu, sambil menunjukkan salah satu koleksi andalan museum.

Kedatuan Besari disebut-sebut sebagai entitas yang pernah berdiri di wilayah Lombok Utara, namun tak diketahui secara pasti penyebab kehancurannya. Dalam tradisi lisan, kerajaan itu lenyap bak ditelan bumi—baik rakyat, batas wilayah, maupun seluruh isi kekuasaannya. Tak ada prasasti yang ditemukan, hanya cerita yang diwariskan turun-temurun.

Koleksi Lontar dan Alat Pertanian Jadi Bukti Peradaban Gangga

Selain rompi Datu Besari, museum ini juga menyimpan berbagai peninggalan lain: alat pertanian khas Lombok Utara, gerabah, senjata tradisional, hingga keropak atau lontar yang mencatat sejarah Kedatuan Gangga. "Disini juga ada keropak (lontar) yang menceritakan Kedatuan Gangga," ungkap Supardi.

Keberadaan lontar itu menjadi kunci penting bagi para peneliti dan pegiat sejarah lokal. Sebab, sumber tertulis tentang masa lalu di Lombok Utara sangat terbatas. Museum Genggelang hadir sebagai ruang alternatif untuk mengisi celah itu.

Juara Satu Museum Desa 2025, Supardi Siap Kembangkan Koleksi

Prestasi sebagai juara satu lomba museum desa tahun 2025 tidak membuat Supardi berpuas diri. Ia mengaku masih banyak benda bersejarah yang belum bisa dipamerkan karena keterbatasan tempat. "Masih banyak benda yang belum dipamerkan karena keterbatasan tempat. Apalagi, masih banyak juga benda-benda masa lalu yang disimpan masyarakat," katanya.

Rencana pengembangan museum pun sudah disiapkan. Supardi ingin museum ini tak sekadar menjadi gudang barang antik, melainkan pusat edukasi yang mengajak generasi muda menghargai, merawat, dan mempelajari warisan leluhur. "Banyak hal yang bisa dikaji dari peninggalan masa lalu," tegasnya.

Merawat Peninggalan, Tanggung Jawab Semua Pihak

Menurut Supardi, kelestarian benda-benda bersejarah tidak bisa hanya dibebankan kepada pengelola museum. Masyarakat, pemerintah desa, hingga pemkab harus ikut ambil bagian. "Semua pihak perlu ambil bagian dalam merawat dan menjaga benda-benda peninggalan masa lalu," ujarnya.

Museum Genggelang menjadi contoh bagaimana sebuah desa bisa menjadi penjaga memori kolektif. Dengan koleksi yang terus bertambah dan semangat pengelola yang tak padam, masa lalu Kedatuan Besari—yang sempat lenyap—kini kembali bisa dibaca, sedikit demi sedikit.

Bagikan
Sumber: mataramradio.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks