Pencarian

KKN Ummat Kelompok 39 Rakit Tungku Pembakar Sampah Minim Asap untuk Atasi Darurat Sampah di Desa Pakuan, Lombok Barat

Jumat, 31 Juli 2026 • 19:15:31 WIB
KKN Ummat Kelompok 39 Rakit Tungku Pembakar Sampah Minim Asap untuk Atasi Darurat Sampah di Desa Pakuan, Lombok Barat
Mahasiswa KKN Ummat Kelompok 39 memperkenalkan tungku pembakar sampah kering teknologi rocket stove bernama Siberdampak di Desa Pakuan, Lombok Barat.

LOMBOK BARAT — Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) di Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, meninggalkan jejak nyata bagi pengelolaan lingkungan. Kelompok 39 KKN Ummat merancang dan meluncurkan Siberdampak, akronim dari Sistem Pembakaran Berdampak Positif, berupa tungku pembakar sampah kering yang mengadopsi teknologi rocket stove.

Berbeda dengan pembakaran terbuka yang menghasilkan asap pekat dan mengganggu pernapasan, teknologi ini memanfaatkan sirkulasi udara optimal untuk mencapai suhu pembakaran lebih tinggi dan stabil. Prosesnya pun berlangsung lebih cepat dengan emisi asap yang jauh berkurang.

Mengapa Warga Butuh Alternatif Pembakaran Terbuka?

Persoalan sampah di lingkungan desa kerap menjadi dilema. Di satu sisi, volume sampah kering terus menumpuk, sementara di sisi lain fasilitas pengolahan terbatas. Metode pembakaran terbuka yang selama ini menjadi pilihan terakhir justru memicu polusi udara yang membahayakan kesehatan warga.

Melalui Siberdampak, mahasiswa menawarkan solusi antara yang lebih terkendali. Meski demikian, alat ini tidak serta-merta menjadi solusi tunggal. Mahasiswa menegaskan bahwa penggunaannya dibatasi khusus untuk sampah kering yang aman dibakar, seperti dedaunan, ranting, atau kertas.

Sementara itu, sampah plastik, limbah elektronik, baterai, karet, dan bahan kimia dilarang keras dimasukkan ke dalam tungku. Jenis limbah tersebut berpotensi melepaskan zat pencemar berbahaya yang justru memperburuk kualitas udara dan mengancam kesehatan.

Edukasi Pemilahan Sampah Jadi Kunci Utama

Kehadiran tungku pembakar ini tidak berdiri sendiri. Mahasiswa KKN Kelompok 39 juga menggelar sosialisasi kepada warga tentang tata cara penggunaan alat, perawatan, hingga jenis sampah yang boleh dibakar. Lebih dari itu, mereka mendorong warga untuk membiasakan diri memilah sampah sebelum diolah.

Ketua KKN Ummat Kelompok 39 menyampaikan bahwa inovasi ini merupakan wujud kepedulian mahasiswa terhadap kebersihan lingkungan sekaligus upaya menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Pakuan.

"Siberdampak kami hadirkan sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan. Kami berharap inovasi ini dapat membantu masyarakat mengurangi penumpukan sampah, meminimalkan polusi asap, serta menginspirasi lahirnya berbagai inovasi untuk menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih dan sehat," ujarnya.

Pemilahan Sampah: Kompos, Bank Sampah, dan Residu

Dalam sosialisasi tersebut, warga diajak memetakan sampah ke dalam empat kategori: organik, daur ulang, residu, dan limbah berbahaya. Sampah organik disarankan diolah menjadi kompos, sedangkan botol, kardus, dan logam bernilai ekonomi bisa disetorkan ke bank sampah atau didaur ulang.

  • Sampah organik: dimanfaatkan menjadi kompos untuk lahan pertanian atau pekarangan.
  • Sampah daur ulang: botol plastik, kardus, dan logam disalurkan ke bank sampah.
  • Sampah residu: jenis sampah yang tidak bisa diolah, menjadi bahan bakar tungku Siberdampak.
  • Limbah berbahaya: dipisahkan dan tidak boleh dibakar karena mengandung zat toksik.

Edukasi ini menegaskan bahwa pembakaran bukan satu-satunya jalan keluar. Pengurangan penggunaan barang sekali pakai, pemanfaatan kembali, dan daur ulang tetap menjadi pilar utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah berkelanjutan di tingkat desa.

Harapan Keberlanjutan Program di Desa Pakuan

Pemerintah Desa Pakuan menyambut baik inisiatif ini. Kehadiran Siberdampak dinilai mampu mendukung upaya desa dalam mengurangi penumpukan sampah sekaligus meningkatkan partisipasi warga menjaga kebersihan lingkungan.

Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi faktor penentu agar inovasi ini tidak berhenti sebagai program KKN semata. Alat yang dirancang sederhana ini berpotensi direplikasi dan dirawat warga secara mandiri, sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Melalui Siberdampak, KKN Ummat Kelompok 39 membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat bisa melahirkan teknologi tepat guna yang aplikatif. Inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih tertib di Desa Pakuan serta memperkuat kontribusi Universitas Muhammadiyah Mataram dalam pembangunan desa berbasis pemberdayaan dan pelestarian lingkungan.

Bagikan
Sumber: suarantb.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks