SELONG — Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, merinci enam desa yang terdampak paling parah berada di Kecamatan Jerowaru, Suela, dan Sikur. Di Jerowaru, wilayah yang dilaporkan kekeringan meliputi Desa Sekaroh dan Desa Seriwe. Kecamatan Suela menyumbang tiga desa sekaligus, yakni Desa Perigi, Desa Selaparang, dan Desa Puncak Jeringo.
Adapun satu desa lainnya adalah Desa Tetebatu Selatan di Kecamatan Sikur. Mulyadi menyampaikan data tersebut saat dihubungi melalui telepon, Kamis (17/9/2026).
Wilayah Jerowaru Jadi Titik Paling Parah
Jerowaru tercatat sebagai kecamatan dengan kebutuhan air bersih paling mendesak. Selain Desa Sekaroh dan Seriwe, penanganan di wilayah itu menyasar Dusun Telone dan Dusun Pengoros Dua, termasuk kawasan Desa Jerowaru.
Titik seperti Pengoros mendapat distribusi air bersih sedikitnya dua hingga tiga kali dalam sepekan. Penyaluran dilakukan dari posko wilayah selatan yang terus beroperasi.
Di luar Jerowaru, penanganan juga menjangkau Kecamatan Montong Gading. Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Dusun Keselet serta kawasan sekitar Puncak Jeringo.
Desa Selaparang Masih Menunggu Permintaan Resmi
Desa Selaparang di Kecamatan Suela belum menerima distribusi air bersih. BPBD masih menunggu permintaan resmi dari pemerintah desa setempat.
Berdasarkan pemantauan sementara, kondisi di Selaparang relatif aman. Belum ada laporan krisis air yang memerlukan penanganan distribusi.
Distribusi air bersih melibatkan BPBD Lombok Timur, MMI, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) NTB. Total sekitar 30 tangki telah dikirim ke sejumlah titik sejak kekeringan melanda.
Status Masih Waspada, Siaga Darurat Belum Ditetapkan
Mulyadi menjelaskan penanganan kekeringan saat ini masih berada pada level waspada. Pemerintah daerah belum menetapkan status siaga darurat karena kondisi dinilai masih moderat dan belum meluas ke seluruh Lombok Timur.
Status siaga darurat baru akan dipertimbangkan apabila kekeringan meluas secara signifikan di delapan kecamatan. Permohonan penanganan darurat secara masif dari masyarakat juga menjadi pemicu lain.
Kondisi kali ini berbeda dengan kekeringan pada 2023 hingga 2025 yang cakupannya lebih luas. Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau berlangsung lebih panjang hingga Desember 2026, meski intensitasnya diprediksi masih moderat.
BPBD Lombok Timur bersama instansi terkait terus memantau perkembangan di sejumlah wilayah. Penyaluran air bersih dilakukan berdasarkan kebutuhan dan permintaan masyarakat terdampak.