Pencarian

7 Daerah di NTB Masuk Status Awas Kekeringan Meteorologis, Dua Pos Hujan di Bima 74 Hari Tak Turun Hujan

Sabtu, 01 Agustus 2026 • 21:00:31 WIB
7 Daerah di NTB Masuk Status Awas Kekeringan Meteorologis, Dua Pos Hujan di Bima 74 Hari Tak Turun Hujan
Dua pos hujan di Kabupaten Bima tidak mencatat hujan selama 74 hari beruntun, menandakan kekeringan ekstrem.

MATARAM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi NTB mencatat dua pos hujan, yakni Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima, tidak mendeteksi adanya hujan selama 74 hari beruntun. Suci Agustiarini, prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, menyebut kedua wilayah itu masuk kategori kekeringan ekstrem lantaran sudah lebih dari dua bulan tanpa hujan.

Fenomena El Nino dengan indeks +2,26 derajat celsius yang menguat selama musim kemarau tahun ini menjadi pemicu utama bertambah panjangnya periode tanpa hujan di sejumlah daerah. Suci menjelaskan, penguatan El Nino tersebut diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan.

Tujuh Daerah Masuk Level Tertinggi Peringatan Dini

Status awas kekeringan meteorologis merupakan level tertinggi dalam peringatan dini yang dikeluarkan BMKG. Secara total, terdapat 17 kecamatan yang tersebar di tujuh daerah tersebut dan masuk dalam kategori level tertinggi ini.

  • Kabupaten Lombok Timur
  • Kabupaten Lombok Utara
  • Kabupaten Sumbawa Barat
  • Kabupaten Sumbawa
  • Kabupaten Dompu
  • Kabupaten Bima
  • Kota Bima

Curah Hujan Rendah dan Peluang Hujan di Bawah 10 Persen

BMKG mencatat curah hujan di NTB pada akhir Juli lalu didominasi kategori rendah, yakni 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Satu-satunya pos hujan dengan curah hujan tertinggi hanya tercatat di Pos Hujan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, sebesar 19 milimeter per dasarian.

Memasuki dasarian I Agustus atau periode 1–10 Agustus, peluang terjadinya hujan di seluruh wilayah NTB masih sangat kecil, di bawah 10 persen. Sementara itu, fenomena Dipol Samudra Hindia (IOD) yang saat ini masih netral diperkirakan beralih ke fase positif mulai September hingga Desember 2026, yang dapat memperparah kondisi kekeringan.

Imbauan BMKG: Waspada Karhutla dan Krisis Air Bersih

Suci mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan, lahan, dan permukiman. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan, mengingat kondisi lahan yang kering mudah terbakar.

"Sehubungan hari tanpa hujan yang kian panjang dan daerah yang masuk status awas kekeringan meteorologi juga semakin banyak, maka kami harap masyarakat dapat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih," pungkas Suci.

Bagikan
Sumber: merahputih.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks