DOMPU — RSUD Dompu mencatat 11 orang dengan HIV menjalani perawatan sepanjang Januari hingga Juni 2026. Komposisinya delapan pasien laki-laki dan tiga perempuan dewasa. Angka itu muncul dari layanan rumah sakit, bukan dari hasil skrining menyeluruh di masyarakat.
Direktur RSUD Dompu, dr. Fitratul Ramadhan, mengungkapkan sebagian besar pasien baru diketahui mengidap HIV setelah menjalani perawatan untuk penyakit lain. Mereka umumnya masuk dengan keluhan tuberkulosis (TBC), lalu pemeriksaan lanjutan mengungkap infeksi HIV.
"Ini kami ketahui setelah dirawat. Biasanya mereka masuk rumah sakit karena menderita penyakit-penyakit TBC, setelah dirawat barulah kami ketahui mereka mengidap HIV," kata Fitratul, Jumat (7/8).
Mengapa 11 Pasien Bukan Gambaran Seluruh Kasus HIV di Dompu
Fitratul menegaskan angka tersebut tidak bisa dibaca sebagai total orang dengan HIV di Dompu. Data rumah sakit hanya mencerminkan pasien yang mengakses layanan di fasilitas kesehatan itu. Warga yang belum memeriksakan diri belum masuk hitungan.
Dari delapan pasien laki-laki, rumah sakit memperoleh informasi soal riwayat hubungan sesama jenis pada sejumlah pasien. Namun orientasi seksual bukan penentu status HIV seseorang. Penularan terjadi lewat hubungan seksual tanpa perlindungan dengan pasangan yang belum terkontrol, pemakaian jarum suntik bergantian, serta penularan ibu ke anak dalam kondisi tertentu.
"Sampai saat ini tidak ada yang dari kalangan pelajar maupun anak di bawah umur. Masih banyak lagi yang belum kita ketahui," ujar Fitratul.
HIV pada fase awal kerap tidak menimbulkan gejala spesifik. Seseorang bisa tampak sehat dalam waktu lama meski membawa virus. Karena itu, tes HIV menjadi krusial bagi warga yang punya faktor risiko paparan.
DPRD Dompu: Penanganan HIV Harus "Dikeroyok" Lintas Instansi
Ketua DPRD Dompu, Muttakun, meminta pemerintah daerah tidak menangani persoalan HIV lewat satu instansi saja. Menurutnya, pencegahan perlu melibatkan kecamatan, desa, dan unsur kewilayahan.
"Bicara HIV di Dompu dengan jumlah kasus yang ada itu menyentakkan kita semua. Ini menjadi lampu merah dan mengingatkan semua pihak untuk secara terpadu dan terintegrasi bergerak mencegah perilaku yang menyebabkan HIV tertular pada manusia," kata Muttakun.
"Harus keroyokan menangani kasus ini," tegasnya.
Rumah Singgah Belum Ada, Anggaran Jadi Sorotan
Muttakun menyoroti belum tersedianya rumah singgah sebagai fasilitas pendukung penanganan HIV di Dompu. Ketiadaan fasilitas itu, menurutnya, bakal menyulitkan pendampingan pasien yang butuh pengobatan berkelanjutan.
"Di Dompu tidak ada rumah singgah, itu akan jadi masalah," ujarnya.
Ia memberi tenggat satu pekan kepada pemerintah kabupaten untuk memfasilitasi langkah penanganan. Jika tidak ada respons, DPRD akan mengambil alih inisiatif tersebut.
"Kita tunggu dulu ada tidak dari pemerintah kabupaten mau memfasilitasi. Kalau dalam satu minggu ke depan ini tidak ada yang memfasilitasi, saya akan ambil alih memfasilitasinya nanti," ujarnya.
Stigma Jadi Hambatan Deteksi Dini
Tantangan penanganan HIV di Dompu bukan hanya jumlah pasien yang sudah ditemukan. Persoalan lain adalah menjangkau warga yang belum tahu statusnya sendiri dan memastikan pasien ter