MATARAM — Pemerintah Provinsi NTB memacu pengembangan hampir 300 desa wisata sebagai strategi utama mendongkrak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari sektor pariwisata. Upaya ini difokuskan pada peningkatan kualitas destinasi agar wisatawan mancanegara bersedia menghabiskan waktu dan uang lebih banyak di daratan.
Hingga pekan ini, tercatat 300 desa telah mendeklarasikan diri sebagai desa wisata. Pemerintah provinsi melakukan pendampingan ketat yang mencakup pemenuhan komponen destinasi, penguatan kelembagaan, pengembangan sumber daya manusia (SDM), hingga strategi pemasaran digital.
Salah satu persoalan krusial yang sedang dibenahi adalah pola kunjungan singkat, terutama dari segmen wisatawan kapal pesiar. Meski ribuan turis datang dalam satu waktu, mayoritas dari mereka memilih untuk tetap menginap di atas kapal dibandingkan di akomodasi lokal.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia, mengungkapkan pihaknya tengah mengikhtiarkan penambahan atraksi dan aktivitas baru. Tujuannya agar tercipta pola menginap semalam atau overnight bagi para tamu tersebut.
“Kita sedang mengikhtiarkan memperbanyak atraksi dan aktivitas untuk menambah lama menginap. Tantangannya termasuk pola kunjungan sehari, seperti tamu kapal pesiar yang datang ribuan orang tapi menginapnya di kapal. Ke depan, kita dorong agar ada pola overnight di daratan,” ungkapnya.
Pengembangan ratusan desa wisata ini tidak berdiri sendiri, melainkan diintegrasikan dengan konsep Desa Berdaya. Skema ini dirancang agar sektor pariwisata mampu menjadi pemicu pertumbuhan sektor ekonomi lain di tingkat desa secara berkelanjutan.
Selain mengoptimalkan desa yang sudah ada, pemerintah mulai membidik potensi wisata tersembunyi atau hidden gem. Diversifikasi destinasi ini diharapkan dapat memperluas pilihan bagi wisatawan yang mencari pengalaman otentik di Nusa Tenggara Barat.
“Tujuannya adalah kontribusi sektor pariwisata terhadap ekonomi daerah dan PDRB. Kita arahkan ke quality tourism agar wisatawan yang datang memberikan spend money yang lebih besar, namun tanpa meninggalkan aspek kuantitas,” terang Ahmad Nur Aulia.
Untuk mencapai target kunjungan 2,5 juta wisatawan pada Triwulan I, Pemprov NTB memprioritaskan pasar dari Australia, Asia, dan Oceania. Pemilihan fokus pasar ini didasarkan pada tren belanja wisatawan yang positif serta ketersediaan konektivitas penerbangan langsung.
Dinas Pariwisata memastikan akan terus memantau perkembangan global untuk menangkap potensi dari negara lain. Prioritas saat ini adalah memastikan pariwisata NTB bergerak positif sepanjang tahun dengan dukungan infrastruktur dan layanan yang lebih mumpuni.