Email Phishing Makin Canggih Meniru Bank dan E-Commerce, Begini Cara Melindungi Data Pribadi

Penulis: Uki Damayanti  •  Senin, 15 Juni 2026 | 13:47:32 WIB
Modus phishing email semakin canggih dengan peniruan domain bank dan e-commerce.

NUSA TENGGARA BARAT — Modus penipuan digital melalui email terus berevolusi. Pelaku kini mampu meniru tampilan surel dari bank, penyedia layanan, hingga toko online dengan sangat presisi. Satu-satunya celah yang kerap luput dari perhatian korban adalah ketelitian membaca alamat pengirim.

Domain Palsu yang Hampir Mirip

Penipu sering menggunakan domain yang sekilas tampak resmi, semisal @google-support.com untuk meniru domain asli @google.com. Pengguna wajib memeriksa alamat lengkap pengirim, bukan sekadar nama yang tertera di kotak masuk.

Sebelum mengklik tautan apa pun, arahkan kursor ke tautan tersebut. Pastikan URL yang muncul menggunakan protokol https dan sesuai dengan alamat situs resmi institusi terkait. Jika terdapat perbedaan mencolok, jangan lanjutkan akses.

Lampiran Berbahaya dan Tekanan Psikologis

Lampiran email menjadi media favorit penyebaran malware. Format file .zip atau dokumen kantor biasa disisipkan kode berbahaya. Pengguna diimbau tidak membuka lampiran yang tidak diharapkan, terutama dari pengirim tak dikenal.

Pelaku juga memanfaatkan taktik tekanan. Email bisa mengklaim akun akan ditutup dalam waktu singkat, ada tagihan mendadak, atau aktivitas mencurigakan yang butuh respons segera. Jangan pernah mengikuti instruksi langsung. Verifikasi melalui saluran resmi perusahaan atau institusi yang bersangkutan.

Fitur Pelaporan dan Autentikasi Dua Faktor

Jika menerima email yang diduga phishing, jangan hanya menghapusnya. Pengguna Gmail bisa melaporkan melalui menu Lainnya pada ikon tiga titik di samping tombol balas, lalu pilih opsi Laporkan phishing. Langkah ini membantu penyedia layanan mendeteksi dan memblokir upaya serupa.

Langkah paling efektif adalah mengaktifkan Autentikasi Dua Faktor (2FA). Dengan fitur ini, pelaku tidak bisa langsung mengakses akun meski sudah memiliki kata sandi. Kode verifikasi tambahan akan dikirim ke perangkat pengguna atau dihasilkan melalui aplikasi autentikator.

Kombinasi Kewaspadaan dan Teknologi

Serangan phishing terus berkembang. Namun, kebiasaan sederhana seperti memeriksa alamat pengirim, tidak asal mengklik tautan, serta mengaktifkan 2FA dapat menekan risiko pencurian data secara signifikan. Pengguna di Indonesia, yang makin akrab dengan transaksi digital, perlu menjadikan langkah-langkah ini sebagai rutinitas.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: medcom.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top