LOMBOK TIMUR — Aktivitas transportasi menuju jalur pendakian Gunung Rinjani mulai terganggu akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Para sopir mobil dan pengemudi ojek yang sehari-hari melayani wisatawan mengaku harus merogoh kocek lebih dalam untuk memastikan kendaraan mereka tetap beroperasi.
Kertadi, sopir mobil pengangkut pendaki, mengatakan Pertalite sebenarnya menjadi pilihan utama karena harganya lebih terjangkau dibandingkan Pertamax. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, stok Pertalite di sejumlah SPBU sering kali kosong, memaksanya beralih ke bahan bakar non-subsidi.
Harga Pertamax Eceran Tembus Rp 20 Ribu per Botol
Kertadi mengungkapkan, untuk satu hari beroperasi, dirinya membutuhkan sedikitnya 10 botol BBM. Dengan harga Pertamax eceran yang mencapai Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per botol, pengeluaran hariannya untuk bahan bakar bisa menembus angka hampir Rp 200 ribu.
“Kalau Pertalite tidak ada, mau tidak mau kami beli Pertamax. Yang penting tetap jalan supaya tidak mengecewakan pelanggan,” katanya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Ia menambahkan, jarak tempuh menuju SPBU yang cukup jauh dari kawasan wisata turut menambah beban biaya operasional. Para sopir berharap pemerintah segera melancarkan kembali distribusi BBM bersubsidi atau membangun SPBU yang lebih dekat dengan gerbang pendakian.
Ojek Rinjani Menahan Tarif di Tengah Lonjakan Biaya
Keluhan serupa disampaikan Hakimin, pengemudi ojek yang biasa mengantar pendaki menuju Pos 2. Ia mengaku tidak bisa menaikkan tarif karena akan mengurangi jumlah penumpang, sehingga selisih kenaikan biaya BBM harus ditanggung sendiri.
“Kalau tarif kami naikkan lagi, penumpang bisa berkurang. Jadi kami yang menanggung kenaikan biaya itu,” ujarnya.
Satu kali perjalanan menuju Pos 2 menghabiskan sekitar satu liter BBM. Jika membawa barang bawaan yang lebih berat, konsumsi bahan bakar bisa meningkat hingga satu setengah liter per perjalanan.
Di luar kebutuhan BBM, para pengemudi juga harus rutin melakukan servis kendaraan karena medan menuju Rinjani cukup berat. Saat ini, terdapat sekitar 42 pengemudi ojek yang aktif melayani pendaki di kawasan tersebut.
SPBU di Sembalun Diharapkan Jadi Solusi Jangka Panjang
Hakimin menyebutkan, kehadiran SPBU di kawasan Sembalun akan sangat membantu para pelaku transportasi. Dengan adanya fasilitas tersebut, akses terhadap BBM bersubsidi menjadi lebih mudah dan biaya operasional bisa ditekan.
Para pengemudi berharap pemerintah daerah segera merespons keluhan ini, mengingat sektor pariwisata Rinjani merupakan salah satu penopang ekonomi masyarakat setempat. Jika kelangkaan berlanjut, dikhawatirkan layanan transportasi bagi pendaki akan semakin terbatas.