NUSA TENGGARA BARAT — Esthi, seorang pembeli, mengaku mulai mencicil KPR dua unit apartemen LRT City sejak Mei 2021. Setiap bulan, ia harus merogoh kocek Rp 18 juta untuk dua tipe yang dibelinya, studio dan dua kamar tidur. Namun hingga kini, unit yang dijanjikan belum juga ia terima.
"Setiap bulan sedih banget mesti bayar ke bank Rp 18 juta. Barangnya belum ada sampai sekarang," ujarnya melalui pesan singkat, Selasa (28/7/2026).
Kepercayaan Esthi terhadap pengembang yang berstatus anak usaha BUMN menjadi alasan utama ia berani berinvestasi. Namun, kenyataan di lapangan jauh dari ekspektasi.
Keuangan Tersendat, Refund Macet
ADCP, yang tercatat di bursa dengan kode saham ADCP, mengakui tengah menghadapi tekanan keuangan. Pengakuan ini memperumit nasib ribuan konsumen lain yang juga menanti kepastian serah terima hunian.
Alih-alih mendapatkan unit, para pembeli justru kesulitan saat meminta pengembalian dana. Perusahaan belum memberikan jadwal pasti kapan kewajiban itu bisa dipenuhi.
Konsep TOD yang Tersendat
LRT City sejatinya dirancang sebagai proyek strategis. Kawasan ini mengusung konsep Transit Oriented Development (TOD), yaitu hunian yang terintegrasi langsung dengan jaringan LRT.
Idenya, penghuni tidak perlu bergantung pada kendaraan pribadi. Semua aktivitas sehari-hari bisa dijangkau dengan berjalan kaki, naik sepeda, atau menggunakan transportasi massal. Kawasan dirancang kompak dengan tata ruang campuran: hunian, komersial, dan fasilitas publik menyatu di sekitar stasiun.
ADCP menyebut proyek ini menerapkan prinsip walkable, mixed use, densify, connect, shift, dan transit. Targetnya, tercipta lingkungan perkotaan berakses tinggi yang mendorong mobilitas efisien dan mengurangi kemacetan.
Namun, konsep ideal itu kini terbentur realitas proyek yang mandek. Para pembeli yang sudah terlanjur percaya pada reputasi BUMN justru harus gigit jari.
Belum ada pernyataan resmi terbaru dari manajemen ADCP atau induk usaha, Adhi Karya, mengenai langkah penyelamatan proyek ini. Sementara itu, cicilan KPR Esthi dan ribuan konsumen lainnya terus berjalan — untuk hunian yang tak kunjung jadi.