MATARAM — Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Kamis, mengonfirmasi bahwa dampak kekeringan di Lombok Barat sudah menyebar ke beberapa titik permukiman. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat per Selasa (23/6) menunjukkan, sebaran warga terdampak paling banyak berada di Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, dengan 1.357 KK.
"Fenomena hari tanpa hujan dalam sebulan ini berimplikasi langsung pada kesulitan masyarakat di lima kecamatan untuk memenuhi kebutuhan air bersih harian mereka," kata Abdul Muhari dalam keterangan resmi.
Selain Sekotong Barat, krisis air bersih juga melanda sejumlah desa di empat kecamatan lainnya. Berikut rincian warga yang terdampak berdasarkan data BPBD Lombok Barat:
Guna mengantisipasi dampak kedaruratan yang meluas, BPBD Lombok Barat memprioritaskan pengerahan empat unit mobil tangki air. Masing-masing armada memiliki kapasitas 5.000 liter, yang disiagakan untuk mendistribusikan air bersih ke kantong-kantong permukiman warga yang paling parah terdampak.
Abdul memastikan bahwa otoritas penanggulangan bencana daerah setempat terus memperkuat koordinasi lintas sektoral. Langkah ini diambil untuk mempertebal suplai bantuan logistik air, mengingat kebutuhan harian warga yang terus meningkat seiring cuaca panas yang berkepanjangan.
BPBD Lombok Barat tidak bergerak sendiri. Mereka berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran setempat, PDAM Giri Menang Mataram, serta sektor dunia usaha untuk memaksimalkan pendistribusian air bersih. "Penambahan armada mobil tangki air dan pasokan air bersih dari berbagai pihak terus diupayakan," ujar Abdul.
Langkah ini dinilai krusial mengingat musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Warga di desa-desa terdampak, seperti Sekotong Barat dan Giri Tembesi, saat ini sangat bergantung pada pasokan air dari mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan mandi.