Piala Dunia Berjalan di Dua Rel: Antara Sihir Lapangan Hijau dan Realitas Pahit di Luarnya

Penulis: Wendra Kusuma  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 03:10:01 WIB
Gol-gol spektakuler mewarnai Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko.

NUSA TENGGARA BARAT — Turnamen di AS, Kanada, dan Meksiko ini mencatat rekor gol terbanyak sejak 1958. Lionel Messi sudah mengemas lima gol; Erling Haaland dan Kylian Mbappé masing-masing empat gol. Laga dramatis seperti kemenangan Republik Demokratik Kongo atas Uzbekistan atau injury time gila di Aljazair vs Austria menjadi santapan empuk penggemar.

Namun Jonathan Wilson dalam kolomnya di The Guardian mengingatkan: Piala Dunia selalu berjalan di dua rel. "Sepak bola memang tangguh. Ia bertahan dari skandal korupsi, kediktatoran, dan eksploitasi," tulisnya. "Tapi itu tidak membuat masalah-masalah itu lenyap."

Kebijakan Visa Timpang, Suporter Skotlandia Kena Getah

AS dan Kanada menolak lebih dari 80 persen aplikasi visa dari negara tertentu. Fotografer resmi Senegal tidak bisa masuk Kanada. Suporter paling terkenal dari Kongo, Michel Nkuka Mboladinga, cuma bisa menonton satu laga di Meksiko. Ratusan suporter Skotlandia mendadak kehilangan otorisasi Este di menit-menit akhir.

"Pertanyaan apakah tuan rumah harus melonggarkan protokol imigrasi untuk Piala Dunia adalah omong kosong. Itu sudah jadi kewajiban sejak awal," tegas Wilson. Ia memperingatkan preseden buruk ini bisa ditiru Arab Saudi pada 2034.

Perlakuan Brutal pada Timnas Iran: Pelatihan Dibuat Sulit

Situasi Iran menjadi sorotan paling kelam. Wilson menyebut perlakuan terhadap tim itu "keterlaluan". Mereka harus ganti kamp pelatihan, tidak diizinkan membawa staf pendukung penuh, dan dibatasi perjalanan ke pertandingan. "Mereka lolos tanpa terkalahkan dan tersingkir karena gol menit akhir Austria ke gawang Aljazair. Sungguh luar biasa. Tapi mereka pasti bisa meraih lebih banyak jika tidak dihambat," ujarnya.

Harga Tiket Gila dan Suporter Kalah oleh Kapitalisme

Budaya suporter yang terbangun puluhan tahun dijungkirbalikkan oleh ambisi cuan instan. Tidak ada lagi imbalan untuk loyalitas. Tiket, transportasi, dan air minum di stadion dibanderol eksploitatif. "Logika mengatakan harus ada titik balik. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat," tulis Wilson.

Ekspansi ke 64 Tim: Antara Kualitas dan Keadilan Kompetisi

Perluasan turnamen terbukti tidak mengencerkan kualitas secara signifikan. Cape Verde, DRC, dan bahkan Curacao yang hanya meraih satu poin menjadi aset turnamen. Namun sistem lolos peringkat tiga terbaik dinilai tidak memuaskan—mengurangi sensasi tersingkir dan membuat tim menunggu lawan dalam ketidakpastian. "Ekspansi ke 64 tim sepertinya tinggal menunggu waktu," pungkas Wilson.

Fase gugur Piala Dunia 2026 akan dimulai akhir pekan ini. Semua mata tertuju pada apakah drama di lapangan bisa mengalihkan perhatian dari kenyataan pahit di luarnya—atau justru sebaliknya.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top