LOMBOK UTARA — Limbah sarang madu yang selama ini dibuang atau dibakar warga Desa Salut, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, kini disulap menjadi pestisida nabati oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mataram. Program ini sekaligus menjadi solusi bagi petani setempat yang selama ini mengandalkan pestisida kimia untuk melindungi tanamannya.
Desa Salut dikenal sebagai sentra budidaya lebah Trigona. Setiap kali panen, para peternak menghasilkan madu berkualitas tinggi yang dipasarkan hingga ke luar Pulau Lombok dengan merek "Madu Due Bareng". Namun, sarang madu bekas panen kerap dijual murah ke pengepul, dibuang, atau dibakar sehingga memicu polusi udara.
Sarang lebah Trigona ternyata bukan sekadar lapisan lilin. Di dalamnya terkandung senyawa aktif yang mampu mengganggu sistem saraf serangga, menghambat pertumbuhan hama, dan membuat hama kehilangan nafsu makan. Senyawa inilah yang kemudian diekstrak menjadi pestisida alami.
Proses pembuatan pestisida ini melibatkan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Lombok Utara. Sawaludin, S.Sos, Analisa Sarana dan Prasarana Pertanian Ahli Muda, turun langsung memberikan pendampingan teknis kepada petani dan mahasiswa, mulai dari pengenalan bahan baku, proses fermentasi, hingga cara aplikasi di lahan.
Pembuatan pestisida nabati ini terbilang mudah karena hanya memakai bahan-bahan dapur yang mudah didapat. Semua bahan dihaluskan, dicampur dalam wadah tertutup rapat, lalu difermentasi selama tiga hari hingga dua minggu. Selama fermentasi, tutup wadah dibuka sebentar setiap dua hari sekali untuk membuang gas.
Dari satu kali proses produksi, petani bisa mendapatkan 15 liter pestisida. Keberhasilan fermentasi ditandai dengan aroma asam yang khas dan tidak adanya bau busuk. Sebelum digunakan, cairan disaring untuk memisahkan ampas, lalu dicampur sabun colek sebagai perekat agar pestisida tidak mudah hilang saat hujan.
Penggunaan pestisida nabati ini tidak bisa asal semprot. Takaran berbeda berlaku untuk tanaman sehat dan tanaman yang terserang hama. Penyemprotan dilakukan secukupnya hingga membentuk uap air seperti embun, dan difokuskan pada bagian tanaman yang diserang hama—daun jika hama menyerang daun, batang jika menyerang batang.
Uji coba pada tanaman cabai dan sawi menunjukkan hasil memuaskan. Petani tidak perlu lagi membeli pestisida kimia yang mahal karena bahan bakunya bisa diproduksi sendiri dari limbah yang selama ini diabaikan.
Inovasi ini sejalan dengan gerakan Proklim yang mendorong adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Pengolahan limbah sarang madu mengurangi tumpukan sampah dan praktik pembakaran yang menghasilkan gas rumah kaca—penyebab utama pemanasan global.
Bagi sektor pertanian, pestisida nabati ini menjadi alternatif aman karena tidak meninggalkan residu beracun di tanah dan air. Ekosistem pertanian di Desa Salut pun tetap terjaga, sekaligus menekan biaya produksi petani di tengah mahalnya harga pestisida kimia.