Pencarian

Fenomena Autopilot Riding Mengintai Pengendara Motor di Mataram: Tubuh Sampai Tujuan, Pikiran Tertinggal

Rabu, 19 Agustus 2026 • 16:56:01 WIB
Fenomena Autopilot Riding Mengintai Pengendara Motor di Mataram: Tubuh Sampai Tujuan, Pikiran Tertinggal
Pengendara sepeda motor melintas di jalanan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, yang kerap menjadi rute harian masyarakat.

MATARAM — Kebiasaan berkendara di rute yang sama setiap hari ternyata menyimpan bahaya tersembunyi. Fenomena yang disebut autopilot riding ini membuat pengendara tetap sadar mengendalikan motor, tetapi perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada kondisi jalan.

Kondisi ini kerap muncul saat pengendara melewati jalan yang sangat familiar, menghadapi perjalanan monoton, atau sedang banyak pikiran. Tubuh menjalankan kebiasaan berkendara, sementara pikiran sibuk dengan hal lain.

Bahaya Autopilot Riding: Respons Terlambat terhadap Bahaya

Meski pengendara masih dalam kondisi terjaga, autopilot riding menurunkan kemampuan membaca situasi sekitar. Pengendara berisiko terlambat menyadari lubang di jalan, kendaraan yang tiba-tiba keluar dari gang, atau kendaraan di depan yang mengurangi kecepatan.

Kondisi ini berbeda dengan microsleep yang berkaitan dengan rasa kantuk dan menyebabkan seseorang tertidur singkat tanpa disengaja. Namun keduanya sama-sama berbahaya karena membuat respons pengendara terhadap potensi bahaya menjadi terlambat.

Jalan yang Hafal Bukan Jaminan Aman

Satria Wiman Jaya menegaskan bahwa pengendara tidak boleh menganggap rute yang sudah familiar sebagai kondisi yang aman. Jalan yang sama dapat menghadirkan situasi dan risiko yang berbeda setiap harinya.

"Jalan yang kita lewati setiap hari memang sudah hafal, tetapi kondisi jalannya tidak selalu sama. Jangan sampai kita hanya mengandalkan hafalan dan lupa membaca kondisi aktual di depan," ujar Satria.

5 Langkah Mencegah Berkendara dalam Kondisi Autopilot

Untuk menghindari risiko tersebut, pengendara perlu menerapkan beberapa langkah sederhana namun efektif saat berkendara:

1. Baca Jalan, Bukan Sekadar Mengikuti Rute

Perhatikan kendaraan lain, persimpangan, kondisi permukaan jalan, serta aktivitas masyarakat di sekitar. Jangan hanya mengandalkan hafalan rute yang sudah dikuasai.

2. Lakukan Self-Check Sebelum Semakin Melayang

Tanyakan pada diri sendiri, "Saya benar-benar fokus atau hanya mengikuti kebiasaan?" Pertanyaan sederhana ini membantu menyadarkan kembali perhatian terhadap aktivitas berkendara.

3. Kurangi Kecepatan Saat Konsentrasi Menurun

Kecepatan yang lebih rendah memberikan waktu lebih banyak bagi pengendara untuk membaca situasi dan merespons potensi bahaya di sekitarnya.

4. Jangan Abaikan Rasa Kantuk

Rasa kantuk bukan sekadar gangguan konsentrasi. Jika sudah mengantuk, pengendara sebaiknya berhenti di tempat yang aman dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

5. Tetap Waspada Meski Jalan Sangat Familiar

Rute yang sama setiap hari dapat menghadirkan kondisi dan risiko yang berbeda. Jangan biarkan kebiasaan mengambil alih konsentrasi saat berada di jalan.

"Kalau mulai merasa pikiran melayang atau berkendara hanya mengikuti kebiasaan, kurangi kecepatan dan kembalikan fokus. Kalau sudah mengantuk, jangan dipaksakan karena itu sudah masuk risiko microsleep," katanya.

Satria menegaskan, keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengendalikan sepeda motor. Pengendara juga dituntut mampu membaca, memprediksi, dan mengantisipasi kondisi di sekitarnya.

"Jangan sampai tubuh sudah sampai tujuan, tetapi selama perjalanan pikiran justru tertinggal," pungkasnya.

Follow kliklombok.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: suarantb.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks