NUSA TENGGARA BARAT — Angka 100 GW bukan sekadar tambahan kapasitas. Jumlah itu nyaris menyamai seluruh pembangkit yang sudah beroperasi di Indonesia—yang selama ini ditopang batu bara, minyak, gas, dan panas bumi. "Seluruh listrik Indonesia sekarang 88 GW. Dari batu bara, minyak, gas, geothermal, semua itu 88 GW. Kita akan membangun 100 GW," tegas Prabowo di hadapan jajaran pejabat energi.
Artinya, dalam kurun waktu yang sangat singkat, pemerintah ingin menggandakan infrastruktur kelistrikan nasional dengan sumber energi terbarukan. "Kita tidak main-main. Target kita adalah 100 GW dalam tiga tahun," ujarnya.
Presiden bahkan menantang tim energi untuk mempercepat target tersebut. "Kalau saya kasih target tiga tahun untuk tim energi, enggak lah, dua tahun lah," katanya, sembari membandingkan dengan program swasembada pangan yang dinilainya rampung lebih cepat dari jadwal empat tahun.
Program ini tidak dimulai dari nol. Pada tahap pertama, pemerintah sudah menyiapkan 14 proyek PLTS yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Total kapasitas proyek perdana ini mencapai 5,3 GW.
Pembangunan PLTS ini akan berjalan paralel dengan pengembangan panas bumi, gas, serta upaya peningkatan produksi minyak. Strategi ini dirancang untuk memperkuat kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang harganya fluktuatif.
Prabowo optimistis proyek ini bisa berjalan lebih cepat dari jadwal. "Saya percaya mungkin kurang dari tiga tahun kita akan sampai 100 GW," pungkasnya.
Instruksi presiden langsung menyasar dua BUMN energi utama: PLN dan Pertamina. PLN akan bertanggung jawab pada integrasi jaringan listrik surya ke sistem kelistrikan nasional, sementara Pertamina diminta mendukung dari sisi penyediaan lahan dan infrastruktur pendukung.
Danantara serta Kementerian ESDM juga mendapat mandat untuk mengawal pendanaan dan perizinan proyek. Dengan target yang dipangkas menjadi dua tahun, tekanan untuk mempercepat eksekusi di lapangan sangat besar—termasuk pembebasan lahan, kontrak panel surya, dan pembangunan transmisi.
Jika target 100 GW tercapai, Indonesia akan melompat menjadi salah satu negara dengan kapasitas PLTS terbesar di dunia. Namun, tantangan terbesar justru ada pada kecepatan realisasi, bukan sekadar komitmen politik.