NUSA TENGGARA BARAT — Menghadapi era kecerdasan buatan (AI) yang kian masif, orang tua justru punya peran yang tidak bisa digantikan mesin: membentuk karakter dan akhlak anak. Hal ini menjadi pesan utama dalam acara Parenting Training dan Peringatan Maulid Nabi yang digelar SMP Negeri 1 Pucuk, Lamongan, Senin (24/8/2026) pagi.
Acara yang berlangsung di aula sekolah sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB ini dihadiri khusus oleh wali murid dan wali kelas 9. Momen ini menjadi ruang diskusi hangat antara sekolah, komite, dan orang tua untuk menyelaraskan cara mendidik anak di rumah dan di sekolah.
Mengapa Orang Tua Tidak Bisa Bersaing dengan AI, tapi Justru Lebih Penting?
Kepala SMPN 1 Pucuk, Muhammad Said, S.Pd., M.Pd., mengingatkan bahwa teknologi seperti ChatGPT, Gemini, hingga Meta memang mampu menyajikan data dan pengetahuan teknis dalam hitungan detik. Namun, ada satu hal yang tidak pernah bisa diajarkan oleh mesin.
"AI bisa menyajikan ribuan data pengetahuan teknis, tetapi AI tidak memiliki hati untuk membina karakter dan akhlak anak-anak kita. Peran guru dan orang tua dalam mendidik moral serta pembentukan karakter tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi apa pun," tegas Said di hadapan para wali murid.
Ia juga memperkenalkan konsep Catur Pusat Pendidikan yang digagas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. Konsep ini merupakan penyempurnaan dari Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara—keluarga, sekolah, dan masyarakat—dengan tambahan satu elemen baru: dunia maya atau media sosial.
Kisah Tarmizi Taher: Pelajaran Berharga untuk Tidak Memaksakan Kehendak
Dalam sesi tausiyah, Dr. H. Shodikin, M.Pd., membagikan kisah inspiratif mantan Menteri Agama RI, Tarmizi Taher. Ayahnya ingin ia menjadi kiai, ibunya berharap ia menjadi dokter, sementara Tarmizi sendiri bercita-cita menjadi tentara.
Kisah ini menjadi pengingat bagi orang tua bahwa potensi setiap anak berbeda-beda. Memaksakan kehendak justru bisa mematikan bakat alami yang dimiliki anak. Tugas orang tua adalah mengenali dan mengasah keahlian spesifik tersebut.
Shodikin mencontohkan, bahkan anak lulusan Kejar Paket B pun bisa meraih kesuksesan besar jika potensi kuncinya ditemukan dan diasah dengan benar. Jadi, nilai rapor bukanlah satu-satunya penentu masa depan anak.
Madrasatul Ula: Keluarga adalah Sekolah Pertama yang Tidak Bisa Digantikan
Shodikin menekankan bahwa keluarga adalah madrasatul ula—sekolah pertama dan utama bagi anak. Sekolah formal hanyalah fasilitas pendukung yang difasilitasi pemerintah.
Mengutip pemikiran tokoh pendidikan dunia seperti J.J. Rousseau dan Maria Montessori, ia mengingatkan bahwa fondasi karakter anak terbentuk di rumah. Kebiasaan sederhana seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, dan makan makanan bergizi adalah bagian dari Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang harus dijaga orang tua di rumah.
Salah satu kewajiban yang ditekankan adalah mengajarkan salat sejak anak berusia 7 tahun. Jika di usia 10 tahun anak belum melaksanakannya, orang tua disarankan memberi teguran yang mendidik.
Apresiasi untuk Siswa Berprestasi dan Program Sekolah ke Depan
Acara ini juga menjadi momen istimewa bagi siswa yang mengharumkan nama sekolah di Jambore Nasional (Jamnas) 2026. Penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Dr. H. Shodikin, M.Pd.
Setelah sesi tausiyah, Wakil Kepala Sekolah bidang Humas, Muhammad Abdur Rohman, S.Pd., M.Pd., bersama Ketua Komite Drs. Ainur Rofik, memaparkan capaian program tahun lalu serta rencana program unggulan ke depan. Orang tua diajak bersinergi dalam bentuk perhatian, doa, waktu, hingga partisipasi aktif.
Sebelum ditutup dengan doa bersama, sesi tanya jawab interaktif berlangsung hangat. Para orang tua tampak antusias berdiskusi langsung dengan pihak sekolah dan komite mengenai perkembangan pendidikan anak mereka.