NUSA TENGGARA BARAT — Uzbekistan menyimpan warisan keilmuan Islam yang jarang dijangkau wisatawan Indonesia. Dua kota utamanya, Samarkand dan Bukhara, tercatat sebagai pusat perkembangan tradisi keilmuan Islam di Asia Tengah. Keduanya kini ditawarkan masuk dalam paket perjalanan religi bagi jemaah umrah asal Indonesia.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menilai kedekatan sejarah dan spiritual jadi alasan utama. Ia menyebut sejumlah tokoh yang akrab di kalangan pesantren Indonesia berasal dari wilayah ini.
"Imam Bukhari merupakan guru spiritual bagi banyak orang di Indonesia. Di Bukhara ada Imam Bahauddin An-Naqsyabandi yang juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia," ujar Gus Irfan.
Keterkaitan itu tidak berhenti di nama. Sebagian pesantren di Indonesia memiliki tradisi mengkhatamkan Shahih Bukhari selama Ramadan, sebuah praktik yang berakar pada khazanah keilmuan Uzbekistan.
Konsep Umrah Plus Uzbekistan memungkinkan jemaah melanjutkan perjalanan setelah menjalankan ibadah di Tanah Suci. Tujuannya bukan sekadar kunjungan wisata, tetapi mengenal sejarah, tradisi keilmuan, dan warisan peradaban Islam secara langsung.
Gagasan ini disampaikan Gus Irfan saat bertemu Ketua Komite Pariwisata Uzbekistan Abdulaziz Akkulov di Tashkent. Keduanya membahas peluang pengembangan wisata religi yang memanfaatkan kedekatan sejarah kedua negara.
Abdulaziz Akkulov menilai program wisata religi berbasis pengalaman spiritual dapat mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Uzbekistan. Menurutnya, warisan sejarah dan keilmuan Islam di negaranya punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan dari negara-negara Muslim.
Samarkand dan Bukhara disebut sebagai dua wilayah dengan posisi penting dalam sejarah peradaban Islam di kawasan tersebut.
Detail teknis perjalanan seperti harga paket, durasi, dan rute penerbangan belum diumumkan dalam pertemuan tersebut. Informasi terkini soal ketersediaan paket Umrah Plus Uzbekistan dapat dikonfirmasi melalui Kementerian Haji dan Umrah atau biro perjalanan umrah resmi.
Bagi jemaah yang berminat, waktu terbaik berkunjung ke Samarkand dan Bukhara umumnya berada di musim semi dan gugur. Suhu lebih bersahabat dibanding puncak musim panas untuk aktivitas jalan kaki di kawasan kota tua.
Perjalanan ini cocok untuk jemaah yang ingin pengalaman umrah lebih dari sekadar ritual, dengan tambahan penelusuran jejak peradaban Islam di Asia Tengah.